Review : Vertikalitas Otak dan Peringkat Humanitas Manusia

Buku berjudul “Vertikalitas Otak dan Peringkat Humanitas Manusia” menjadi sebuah titik balik refleksi diri yang selama ini sering ditanyakan seseorang pada dirinya.  Lebih dari sekedar pertanyaan “Siapakah aku”, kini berkembang menjadi “Siapakah aku di antara mereka?”. Pertanyaan ini dapat memberi gambaran tentang diri-sendiri dalam lingkungan bermasyarakat.

            Seorang dosen patofisiologis saya, dr. Yekti Hartati Effendi, pada masa kuliah berkata bahwa “Secara biologis, manusia hanya boleh dikatakan meninggal ketika otak sudah mati, bukan sekedar detak jantung yang berhenti”. Pada saat itu, saya merasa bahwa hal ini adalah sesuatu yang baru karena sebelumnya saya meyakini bahwa kematian jantung adalah kematian sesungguhnya. Nyatanya, segala sesuatu yang dilakukan oleh manusia ialah respon otak yang divisualisasikan melalui tindakan. Otak sering dikaitkan dengan tingkat kecerdasan dan tentunya juga berhubungan pada penentuan humanitasnya. Kembali menyadari bahwa diri kita adalah ciptaan Tuhan, maka seluruh organ tubuh yang kita miliki, termasuk otak merupakan bait yang harus dijaga karena disanalah titik bertemunya roh dan jiwa manusia dan nantinya berhubungan dengan cara hidup kita.

Terdapat empat peringkat humanitas manusia yang dijelaskan dalam buku ini. Apa saja? Yuk, mari kita lihat satu-persatu.

Pertama. Homo Vegetus. Manusia dengan ciri homo vegetus pada umumnya tidak sadar sepenuhnya tentang diri, orang lain, lingkungan dan sumber jiwa (Allah). Golongan homo vegetus memiliki kecenderungan hidup sekedar bernapas, bertumbuh dan berkembang. Ibarat tumbuhan, pertumbuhan dan perkembangannya pun sebagian besar mengharapkan bantuan dari luar dirinya. Tumbuhan tidak pernah menyirami dirinya sendiri dengan air. Dalam kondisi tertentu, ketika ia tidak mendapatkan bantuan, maka tidak lama tumbuhan tersebut akan mati karena tidak mampu bertahan. Manusia dengan ciri homo vegetus juga tidak akan mampu bertahan jika hanya mengaharapkan bantuan dari luar tanpa berusaha untuk mengubah keadaannya menjadi lebih baik. Dalam hal ini, otak belum digunakan untuk berkomunikasi dengan Tuhan dan menemukan solusi atas masalah yang dialami.

Kedua. Homo Mamalibus. Manusia dengan tipe homo mamalibus setingkat lebih tinggi dibandingkan homo vegetus yaitu mau mencari cara untuk mempertahankan hidup. Namun, mereka biasanya tidak berpikir jernih terlebih dahulu sebelum bertindak. Kategori ini biasanya anti terhadap hal detail dan data/informasi yang banyak dalam membuat keputusan. Adapun tujuan hidupnya sekedar untuk kepuasan pribadi. Manusia dengan ciri ini juga sibuk mengumpulkan harta untuk dirinya-sendiri. Jika ada yang ingin diraih, seseorang dengan tipe ini selalu mengandalkan kekuatan diri seperti fisik/jabatan/kekuasaan yang bertujuan untuk menguntungkan diri sendiri dan (jika perlu) mengorbankan keluarga sedarah.

Ketiga. Homo Sapiens. Manusia dengan tipe homo sapiens hidup berdasarkan kebenaran logis dengan cara mengumpulkan informasi/data sebanyak-banyaknya untuk mengungkapkan kebenaran. Umumnya, keputusan tidak dapat diambil jika fakta yang dibutuhkan belum mencukupi/lengkap. Tipe manusia homo sapiens memiliki tujuan untuk mempertahankan hidup dengan cara mencapai kesuksesan, cita-cita, dan kebahagiaan tanpa harus menjadikan orang lain sebagai korban. Motto hidup “Live to compete” dimaknai dengan cara berjuang meningkatkan kemampuan diri tanpa menjatuhkan orang lain. Sayangnya, seseorang dengan tipe homo sapiens masih sering bertanya tentang keberadaan Tuhan.

Keempat. Homo Deus. “Live to Love”. Manusia seutuhnya adalah sebuah cinta yang Tuhan hadirkan ke bumi melalui rahim seorang ibu. Mereka menyadari sepenuhnya kehadiran Allah bahwa bumi dan segala isinya adalah kepunyaan-Nya. Allah adalah Kasih. Masyarakat Homo Deus umumnya menyandarkan hidupnya pada Kasih Allah. Hidup berdasarkan kasih dicerminkan dengan cara sukacita, rajin, sabar, adil, konsisten mau belajar, mau berbagi dengan orang lain, dan lain sebagainya. Tipe homo Deus mengarahkan hidupnya dalam perspektif positif. Kita percaya bahwa sekalipun ada masalah, hal-hal yang tidak bisa dijangkau oleh otak rasional atau diri kita ialah menjadi ranah Allah.

Dari keempat tingkat humanitas tersebut, kita sadar bahwa tujuan kita adalah menjadi Homo Deus. Hidup berdasarkan Kasih, membangun komunikasi intens dengan Tuhan dan mendengar apa yang dikehendaki-Nya atas hidup kita. Ruang kecil yang disebut kelenjar pineal pada otak menjadi tempat perantara antara jiwa dan tubuh kita terhubung. Jiwa kita adalah rahmat dari Tuhan. Memberi makan jiwa dengan hal baik akan memberi kesehatan pada otak yang nantinya akan memberi perintah terhadap segala sesuatu yang kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari dan lingkungan bermasyarakat. Saatnya bertanya, aku berada di peringkat yang mana ya?

Post Comment

You May Have Missed