Sebuah kisah yang teringat kembali : Ayah karya Andrea Hirata

Di sela kesibukanku aku ingin mencoba kembali kebiasaan membaca buku yang lumayan lama telah kutinggalkan. Beberapa buku telah kucoba baca, tetapi tidak banyak yang bisa membuatku bertahan membacanya hingga habis. Kemudian aku teringat kepada salah satu penulis favoritku, Andrea Hirata. Aku menimbang–nimbang buku mana yang kiranya akan kubaca diantara banyak bukunya yang kusukai. Disaat itulah aku memilih buku Ayah, yang kubaca sekitar 6 tahun yang lalu, namun entah mengapa kesan yang kuat masih membekas dalam ingatanku yang samar. Kubaca halaman demi halaman buku itu, tak terasa aku semakin tenggelam dalam cara Andrea menceritakan kisahnya yang sederhana, jenaka, namun sangat indah.

Buku itu berkisah mengenai seorang tokoh bernama Sabari, seorang anak laki laki Belitong biasa, tampangnya tak terlalu cocok dikatakan tampan. Ia tumbuh dengan puisi karna ayahnya juga seorang penggemar puisi, sehingga membuatnya pandai dalam pelajaran Bahasa Indonesia di kelasnya. Suatu ketika dia bertemu dengan seorang gadis cantik yang kemudian menjadi pujaan hati Sabari selama hidupnya, bernama Marlena. Berbagai cara dilakukan Sabari untuk menaklukkan hati Marlena, namun sikap gadis itu bagai batu keras yang kalau  dipukul dengan batu pun tak akan pecah, tak sekali pun dia pernah melirik Sabari.

Uniknya, Sabari adalah seseorang yang memiliki karakter polos, sabar seperti namanya, dan tidak pernah menyerah. Berbagai upaya dilakukannya, seringkali membuatku tertawa kecil dan menggeleng kepala melihat tingkahnya dan sikap polosnya. Tahun – tahun berlalu Sabari masih mencintai Marlena, bahkan ia bekerja di pabrik batako milik ayah Marlena dan merasa bahagia bahkan hanya untuk melihat Marlena lewat sepintas dari pandangannya. Suatu ketika, suatu musibah terjadi pada Marlena karena pergaulannya yang cukup bebas, ia hamil dan ditinggalkan oleh pacarnya. Untuk menutupi aib itu, ayah Marlena harus menihkahkannya, dan disanalah Sabari maju untuk kesempatan emas yang telah dinantinya selama ini. Mereka akhirnya menikah, namun seperti orang yang tidak menikah. Dalam pernikahannya, hanya hitungan jari Marlena bertemu dengan Sabari, itupun hanya sebentar. Hingga Marlena melahirkan, anak itu ia tinggalkan bersama Sabari.

Dengan begitu, Sabari menjadi Ayah seorang anak laki – laki lucu yang diberi nama Zorro. Sabari sangat menyayangi Zorro seperti anaknya sendiri, ia memberikan seluruh hidupnya untuk fokus membesarkan Zorro. Ia menemukan bagian dari dirinya yang tersembunyi, menjadi seorang Ayah. Namun kebahagiaan Sabari hanya berlangsung sebentar, Marlena datang dengan suami barunya dan menceraikan Sabari. Tidak lama kemudian, Marlena mengambil Zorro dari Sabari. Bertahun-tahun hidup Sabari menjadi sepi, menahan rindu kepada anak yang dicintainya itu. Banyak hal yang terjadi setelah delapan tahun, Sabari kehilangan arah dalam hidupnya. Disanalah dua sahabat Sabari, Ukun dan Tamat, berjanji untuk menemukan Zorro dan Marlena di penjuru pulau Sumatra demi Sabari agar tidak menjadi gila. Setelah perjalanan yang panjang dan penuh perjuangan, Ukun dan Tamat berhasil menemukan Zorro dan Marlena di kota kecil di Sumatra, dan akhirnya ayah dan anak itu bertemu lagi setelah kisah panjang yang mengharukan.

Buku yang berisi 396 halaman ini berhasil menyentuh hati ku dalam setiap ceritanya. Aku kagum kepada Sabari, betapa ia adalah seseorang yang tulus dalam mencintai. Ia bersedia melakukan apapun untuk orang-orang yang dia cintai, meski kadang terdengar gila dan tidak masuk akal. Ada suatu peristiwa Ketika Sabari menerima kabar dari Ukun dan Tamat bahwa mereka telah menemukan Zorro dan akan membawanya Kembali ke Belitong, Sabari sangat senang dan berencana untuk melakukan sesuatu untuk ditunjukkannya kepada anak kesayangannya itu. Ia kemudian mengikuti perlombaan lari marathon agar dapat mempersembahkan hadiahnya kepada Zorro. Walaupun sudah berlatih keras, ia tidak dapat bersaing dengan pelari muda lainnya, namun dengan keteguhan hatinya ia menyelesaikan perlombaan itu, demi anaknya.

Banyak sekali pelajaran yang kudapatkan dari buku ini.  Di antara banyaknya hal yang kupelajari, aku dapat melihat bagaimana cinta yang tulus bisa jadi energi yang besar, dan dapat menjadikan suatu hal yang mustahil jadi nyata. Buku ini merefleksikan cinta yang tulus dan sederhana, seperti cinta Sabari kepada Zorro. Aku menjadi sadar betapa bahagianya ketika kita masih diberi kesempatan untuk dekat dengan orang – orang yang kita cintai, dan betapa pentingnya kita harus menunjukkan cinta itu. Selain kisah mengenai cinta seorang Ayah kepada anaknya, ada sudut pandang yang tak kalah menarik bagiku. Kisah Zorro, anak dari Marlena yang telah memiliki banyak kisah menarik saat ia hidup berpindah – pindah dengan ibunya. Beberapa kali Marlena menikah setelah bercerai dengan Sabari, dan Zorro pun memiliki beberapa orang yang dipanggilnya Ayah. Zorro merupakan anak yang sangat menghormati dan mencintai Ibu dan setiap orang yang menjadi ayahnya. Hangatnya kisah yang ada di dalam buku ini akan menjadi cerita yang akan selalu ku ingat dan berkesan bagiku.

1 comment

comments user
S Sim Bo

Keteguhan iman yang menguatkan dan membahagiakan

Post Comment

You May Have Missed