Hai, Aku Sore, Istri Kamu Dari Masa Depan

Hai, aku Sore, istri kamu dari masa depan.

Kalimat pembuka itu terus terngiang dalam benak saya setelah menonton film Sore: Istri dari Masa Depan.

Scene yang diulang beberapa kali saat Jonathan kembali ke kebiasaan buruknya.

Marah, kesal, merasa lelah, namun memilih untuk tetap bertahan.

Makna tersirat dari sebuah kata “memaafkan”.

Setelah menonton film “Sore”, aku jadi bertanya-tanya, apakah jodoh seseorang sebenarnya sudah ditentukan oleh Tuhan dan tanpa disadari, ternyata ada garis yang terhubung untuk mempertemukan keduanya?

Entahlah.. Lupakan..

Membawa sisi kelemahlembutannya, Sore masuk dalam kehidupan Jonathan yang kelihatannya kurang teratur menurut “standar Sore”. Sore yang datang dari masa depan mulai berusaha untuk mengubah gaya hidupnya. Ia melakukan berbagai cara mulai dari menyuruh Jo berhenti merokok, membuang rokoknya, membuang semua  minuman alkoholnya, memaksanya berolahraga, dan lainnya. Sayangnya, semua tidak bertahan lama. Sore dengan lelahnya harus menerima memulai segala sesuatu dari awal ketika Jo dalam keadaan tidak baik. Sakit batin? Mungkin iya. Tapi takdir sudah berkata kalau mereka berjodoh. Tiada kata lain selain menerima untuk mempersiapkan masa depan lebih baik. Pengulangan kisah yang mereka alami menjadi bahan pembelajaran bagi Sore kalau orang lain tidak akan bisa berubah jika niatnya belum datang dari diri sendiri. Sebanyak apapun nasihat, jika hati masih menolak, semua akan sia-sia.

Dari penggalan kisah dalam film, ada alasan mengapa Jo memilih tinggal di Kroasia. Ternyata, ia dan keluarganya sudah ditinggalkan oleh ayahnya sejak ia masih kecil. Ada trauma yang tertinggal dan berharap ia bisa dekat dengan ayahnya. Luka batin yang dialami sejak kecil hingga dewasa juga mungkin sebagai salah satu penyebab pola hidup Jo yang kurang teratur. Sore, berusaha keras untuk meyakinkan Jo agar pergi menemui ayahnya. Gong… Niat baik yang mulai terbangun akhirnya meyakinkan Jo untuk bertemu dengan ayahnya. Jonathan berkunjung ke rumah ayahnya dan meninggalkan sebuah foto kebersamaan mereka dilengkapi tulisan aku memaafkan ayah.

Momen ini menjadi titik balik kehidupan Jo. Kisah yang dialami Jo memberi pesan kepada penonton bahwa trauma tertentu akan membentuk kepribadian seseorang dan berdampak pada cara hidupnya. Dendam atau amarah pada seseorang tidak akan membuat kita lebih baik. Tanpa disadari, kehidupan yang penuh amarah hanya akan menjadi gerbong penghambat kemajuan diri bertahun-tahun karena waktu akan terus maju dan tidak dapat diputar kembali. Saat dimana Jonathan menerima dan memaafkan segalanya, pola hidupnya pun ikut berubah 180°.

Dalam setiap perubahan Jo, ada peran besar dari Sore. Ia hadir dan setia mendampingi walau kadang capek hati. Peran Sore dan perubahan hidup Jonathan mengingatkan saya akan isi kitab Titus 2:1-8. Sebagai orang muda, kita diajak agar mampu “menguasai diri dalam segala hal, menjadikan diri sebagai teladan dalam berbuat baik, jujur, sungguh-sungguh dalam pengajaran, sehat dan tidak bercela dalam pemberitaan agar lawan tidak punya hal buruk untuk diberitakan”.

Sore yang sudah tahu Jo akan meninggal dengan penyakit jantung, berkali-kali mengingatkan Jo agar tidak merokok. Sore mau Jo hidup lebih sehat. Meskipun ia yakin bahwa kematian tidak bisa diubah, setidaknya mereka bisa menikmati kebersamaan dan kehangatan saat sudah menikah.

Dalam kitab Titus juga disampaikan bagaimana sosok lelaki tua atau dalam konteks film ini ialah Jo yang akan menjadi kepala rumah tangga. Disebutkan bahwa laki-laki yang lebih tua “hendaklah hidup sederhana, terhomat, bijaksana, sehat dalam iman, dalam kasih dan dalam ketekunan”. Berdamai dengan diri sendiri adalah kunci awal perubahan diri yang lebih baik dan siap menata kehidupan berikutnya.

Peran Sore yang awalnya mungkin sedikit menyebalkan dan memilih untuk tetap sabar dan bertahan juga telah ditulis dalam kitab ini. Dalam kitab Titus tertulis bahwa perempuan tua hendaklah mereka hidup sebagai orang-orang beribadah, jangan memfitnah, jangan menjadi hamba anggur, cakap mengajar hal-hal yang baik dan mendidik perempuan-perempuan muda, mengasihi suami dan anak-anaknya, hidup bijaksana dan suci, rajin mengatur rumah tangganya, baik hati, dan taat pada suaminya agar firman Allah jangan dihujat orang”.

Jika dibandingkan peran keduanya, peran perempuan lebih dominan mempertahankan kehidupan rumah tangga. Aku jadi teringat, sebuah buku berjudul “Memahami Hati Wanita” yaitu wanita akan mengusahakan apa saja demi kebahagiaan keluarganya sehingga rumah tangganya menjadi taman surga yang dirindukan bagi orang-orang yang ia sayangi. Dan dibalik kesuksesan hidup, senantiada ada wanita berperasaan lembut yang menopangnya.

Sore bukan hanya karakter fiktif. Ia adalah simbol dari cinta yang sabar, perempuan yang tidak menyerah, dari seseorang yang tidak hanya mencintai tetapi juga menguatkan. Dalam kehidupan nyata, mungkin kita semua butuh “Sore” atau menjadi “Sore” bagi orang lain. Yang pasti, cinta yang matang bukan hanya tentang siapa yang datang lebih dulu, melainkan siapa yang tetap tinggal meski tahu jalannya tidak selalu mudah.

Post Comment

You May Have Missed