Makan dengan Penuh Kesadaran
Standar kebutuhan manusia dalam ilmu pengetahuan dianjurkan sejak dahulu mulai dari panduan 4 sehat 5 sempurna hingga saat ini dikenal dengan Pedoman Gizi Seimbang. Masing-masing kelompok pangan memiliki jumlah atau porsi maksimum yang dapat dikonsumsi setiap harinya. Lebih dalam lagi, biasanya pada industri atau rumah sakit, masing-masing pasien akan dihitung kebutuhannya dalam sehari meliputi energi, protein, lemak, dan karbohidrat. Vitamin dan mineral jarang diperhitungkan meskipun sebenarnya beberapa pakar diluar negeri mengatakan lebih mengutamakan kebutuhan zat gizi mikro dibandingkan makro.
Menjadi refleksi bagi diri kita masing-masing, apakah tubuh kita memerlukan makanan sesuai perhitungan kebutuhan setiap harinya? Jujur saja, bagi saya, mungkin setiap hari jika harus memenuhi standar tersebut, saya akan berurusan dengan konstipasi atau sembelit (berdasarkan pengalaman pribadi saya). Saat ini, mungkin kita harus mulai menyadari bahwa bukan hanya berdoa yang membutuhkan kesadaran penuh, melainkan aktivitas makan juga. Masing-masing kita mengharapkan, apa yang kita makan dapat memberi dampak kesehatan bukan sekedar mengenyangkan. Makan dengan penuh kesadaran bisa kita mulai dengan bertanya pada diri sendiri makanan apa yang harus saya konsumsi hari ini dan dibutuhkan oleh tubuh saya? Seberapa banyak makanan yang harus saya konsumsi hari ini? Apakah saya sudah cukup lapar sehingga harus makan lagi?
Mengapa kita harus makan dengan penuh kesadaran? Jika kita menyadari, ada beberapa efek samping dari kebanyakan makan yaitu mulai dari sulit tidur pada malam hari, kekenyangan sehingga mengantuk pada siang hari dan tidak fokus belajar/bekerja, sembelit, badan tidak terasa segar saat bangun dipagi hari. Makan dengan bijaksana juga membantu kita terhindar dari kerakusan, karena kita belajar menahan diri. Kerakusan dalam jangka panjang akan mengakibatkan timbulnya penyakit. Saat kita makan secukupnya, kita juga memberi kesempatan orang lain untuk menikmati makanan yang ada. Dari segi ekonomi, kita juga lebih hemat dan hanya mengeluarkan dana sesuai kebutuhan kita.
Godaan makanan kadang memang tidak terelakkan. Saat lelah, rasanya ingin menyantap makanan dalam jumlah besar. Saat hendak berbuka, ada kalanya kalap dengan makanan yang tersedia. Saat ke kondangan, tidak mau ketinggalan semua hidangan pesta, icip sedikit-sedikit lama-lama menjadi bukit. Ada yang lapar mata, yang tadinya ganiat jajan, malahjajan.
Apapun godaannya, semoga semakin hari kita bisa makan secukupnya sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh tubuh kita masing-masing. Saatnya kita makan dengan penuh kesadaran untuk tubuh yang dan jiwa yang lebih sehat.




Post Comment