Aphasia Wernicke
Sadar ga sihkalau diri kita kadang-kadang bicara terlalu bertele-tele? Atau mungkin bertemu orang yang ngomongnya panjang dan sulit dipahami? Atau mungkin ada beberapa orang yang sulit menangkap makna ucapan yang disampaikan oleh teman/guru atau lawan bicara lainnya? Juga kemungkinan lain ketika pendapatnya tidak diterima, yang terjadi justru mudah tersinggung dan emosional?
Tanda-tanda ini menjadi bahan refleksi kepada diri saya sendiri. Pertanyaan-pertanyaan diatas muncul ketika saya selesai membaca penggalan paragraf dalam buku “Bahasa Rumah Kita Bersama” Karya Porat Antonius halaman 533-534 tentang Apashia Wernicke.
Selama proses berbahasa, beberapa bagian otak bersinergi untuk memahami informasi yang telah diterima baik secara visual (mimik/bahasa isyarat) maupun auditori. Ada kalanya kita sulit merangkai kata untuk menyampaikan pendapat, lupa kalimat yang hendak disampaikan, tidak mampu memahami arti tulisan/lisan, atau bicaranya belibet. Awalnya aku kira ini adalah hal yang biasa dialami oleh semua orang karena setiap orang mungkin kehilangan fokus sejenak sehingga kadang-kadang tidak nyambung jika diajak berbicara. Namun, dalam kondisi yang berulang, hal ini ternyata ialah gangguan atau lesi yang terjadi pada area otak tertentu. Bagian otak utama yang menerima dan memahami informasi adalah bagian Wernicke,dan memproduksi bahasa adalah Broca. Lebih tepatnya, gangguan yang ditandai dengan tanda-tanda diatas disebut sebagai Apashia Wernicke.
Berdasarkan uraian pada buku Bahasa Rumah Kita Bersama, ada empat tanda bahwa seseorang mengalami Aphasia Wernicke yaitu (1) sulit memahami informasi baik lisan maupun tulisan, (2)lancar berbicara namun bertele-tele atau berputar-putar, (3) kata-kata dominan function words tanpa nomina atau verba sehingga membuat kalimat sarat makna, dan (4)emosional bila gagal dipahami oleh orang lain.
Apakah kita bisa membayangkan jika di dalam rapat atau forum resmi, kita tidak bisa memahami maksud pimpinan atau narasumber kita? Mungkin yang terjadi bukannya dapat solusi baru, malah nambah masalah baru. Kata orang “terlalu kesana-kemari tapi intinya ga dapet”. Bacaan ini menjadi bahan refleksi bagi diri saya, sejauh mana saya bisa memahami informasi baik lisan maupun tulisan, sejauh mana saya mampu membalas informasi sehingga terjadi komunikasi dua arah yang diharapkan. Satu-satunya jalan yang bisa kulakukan adalah belajar. Belajar supaya lebih rajin menulis, membaca, membangun komunikasi dengan orang lain. Aku tidak bisa membayangkan gangguan seperti apa yang terjadi pada bagian otak Wernick-ku jika hal tersebut terjadi berangsur lama. Mungkin yang buat lebih malu adalah diri-sendiri tidak sadar kalau kitanya punya komunikasi yang kurang baik/jelas. Duh, jangan deh ya.. sering-sering dehlatih diri dan fokus kalau lagi ngobrol atau diskusi dengan orang lain. Latih diri juga untuk membaca dan menulis secara terstruktur agar mudah memahami makna tulisan yang disampaikan. Informasi ini menjadi hal baru bagiku karena proses berbahasa sangat erat kaitannya dengan kesehatan dan fungsi otak. Sehat-sehat, ya Otak kita…




Post Comment