Bukan Susu Formula, Pangan Lokal : Sumber Pangan Sehat Seutuhnya

Tulisan ini merupakan bagian dari pengalaman pribadi ketika saya bekerja sebagai nutrisionis di sebuah wilayah kecil, Kecamatan Titehena, Flores Timur, NTT. Tahun 2021.

Bekerja sebagai nutrisionis di puskesmas bukanlah hal yang mudah. Bersentuhan langsung dengan masalah gizi dan kesehatan di masyarakat harus membutuhkan rasa empati yang tinggi. Umumnya, penanganan masalah gizi dan kesehatan bagi semua orang dianggap sama, tanpa memperhatikan “individu” yang dihadapi. Contoh sederhananya adalah susu selalu dianggap sebagai sumber protein yang baik bagi semua orang khususnya anak yang sedang mengalami tumbuh kembang.

Seperti biasa, di unit kerja kami, nutrisionis punya agenda kunjungan rumah balita. Bukan sekedar kunjungan untuk mendapatkan uang perjalanan dinas dan mengumpulkan data seadanya, melainkan penggalian informasi yang lebih dalam tentang penyebab masalah dari individu tersebut, selanjutnya bertukar informasi tentang solusi yang ditawarkan.

Sasaran kunjungan rumah kali ini adalah balita yang kami temui sebelumnya di posyandu, mengalami gizi buruk dan penyakit jantung bawaan. Tarikan dada dan nafasnya sangat dalam. Dada yang bengkak dan kulit tipis menyelimuti tulang memperparah tampilan fisiknya. Sungguh memprihatinkan. Sebelumnya, saat konseling di posyandu, saya sudah menyampaikan beberapa hal terkait PMBA termasuk anjuran tetap menyusui, memberikan makanan porsi kecil dan frekuensi sering, memberikan variasi makanan pokok, sayur dan sumber protein yang tersedia. Jika ada rejeki (dapat tangkapan ikan), jangan lupa dimasak dan diberikan ke adek. Selain anjuran PMBA, tentu kami memberikan motivasi dan dukungan kepada orangtua agar setia menjaga dan merawat anaknya dalam kondisi apapun.

Kondisi yang berbeda saat kami menemui ibu dan anak tersebut di rumahnya. Badan tampaknya semakin bengkak, lendir/dahak semakin banyak, dan suara tarikan nafasnya semakin kuat terdengar. Melihat kondisinya yang semakin parah, saya dan teman yang bersama-sama berkunjung agak kesal. Saya tanya penyebabnya, makanan apa yang diberi ke adek tersebut. Ibu muda ini memang cukup jujur, dia menyampaikan kalau minggu lalu pada hari yang sama dengan hari posyandu, bupati melalukan kunjungan kerja ke desa tersebut. Mereka diberi bantuan susu formula dan bubur instan. Sebelumnya, ibunya memang tidak pernah memberi makanan dan minuman tersebut ke adek, namun karena pada saat itu diberi bantuan, maka si ibu beralih ke susu formula dan bubur instan.

Saya tidak bisa menyalahkan pemerintah karena sudah kewajiban mereka untuk memberikan bantuan kepada masyarakat yang membutuhkan. Mereka juga mungkin tidak paham bahwa intervensi kepada masing-masing anak tidak semuanya sama. Saya juga tidak bisa menyalahkan orangtua. Keterbatasan ilmu pengetahuan tentang pangan lokal dan hubungannya terhadap kesehatan membuat mereka tetap memberi paket bantuan tersebut ke anaknya. Selain itu, bagi masyarakat di pedesaan, batuk pilek yang dialami oleh anak-anak selalu dianggap karena perubahan musim. Angin dan hujan selalu menjadi korban dari pembelaan ibu-ibu. Jarang ada yang berpikir dan mereflesikan diri kalau makanan yang diberi ke anak-anak juga bisa menyebabkan sakit.

Singkat cerita, memang dengan sedikit rasa dan nada yang kesal saat itu, saya minta ke ibunya agar berhenti memberikan susu formula dan bubur instan tersebut. Formula F75, F100 atau formula gizi buruk lainnya memang tidak kami berikan pada balita dengan kondisi khusus ini. Kami menganjurkan untuk kembali ke pola makan biasa, masak bubur sendiri, agak repot bagi si ibu tapi kesehatan anak lebih terjamin. Saya juga menekankan, kalau kondisi anak kurang sehat jangan diberikan produk-produk industri. Saat itu, untuk memudahkan pemantauan, saya minta nomor hp keluarga yang bisa dihubungi.

Karena masih prihatin dengan kondisinya, saya berkonsultasi dengan seseorang yang mungkin bisa memberi saran pangan apa yang bisa diberi. Saat itu beliau merekomendasikan kacang mente dan buah pisang. Saya seperti mendapat inspirasi baru, kedua jenis makanan itu memang mudah ditemui disana. Pohon mente dan pohon pisang melimpah di tempat itu.

Saya berpikir kembali, kalau saya kasi kacang mente, bisa jadi mereka kesulitan mengolahnya karena tidak ada blender atau mesin pencacah lainnya. Akhirnya saya berikan kacang mente yang sudah dihaluskan. Anjurannya tinggal diseduh saja dan endapan kacang mente bisa digunakan untuk campuran bubur atau olahan cemilan lainnya. Karena pohon pisang melimpah, kami sampaikan ke mereka agar selalu menyediakan buah pisang di rumah. Satu sisir pisang mas ukuran kecil hanya lima ribu rupiah. Satu sisir pisang ukuran besar juga hanya sepuluh ribu. Sudah murah, organik pula. Tidak perlu repot mencari buah-buah yang lain. Apa yang tersedia, itu saja yang dikomsumsi. Konseling PMBA dan pemberian motivasi serta dukungan tidak pernah berhenti.

Syurkurnya, orangtua cukup kooperatif. Kami nutrisionis juga selalu senang, ketika berat badan sedikit demi sedikit bertambah saat di posyandu. Meskipun keterangan di e-ppgbm tetap outlier dan masih gizi buruk, setidaknya kondisinya semakin membaik dan jarang sakit.

Pemantauan berlanjut. Setiap kali ada program PMT, mereka menjadi sasaran terpilih, tentu dengan perlakuan khusus dengan olahan makanan yang berbeda dengan balita lainnya. Kerjasama yang cukup baik antara nakes, orangtua dan kader membuat kondisi adek tersebut semakin baik. Waktu berlalu, usia bertambah, dan tekstur makanan juga berubah. Yang dulunya biasa makan bubur, sekarang sudah bisa makan nasi. Saya cukup terkesima ketika bapaknya menyampaikan anaknya sudah makan nasi. Anak juga sudah bisa diajak bermain dan mudah tersenyum. Walau masih tetap outlierpada aplikasi pencatatan online, namun kondisinya semakin baik.

Pengalaman ini mengajarkan saya bahwa tidak semua anak sama. Pemberian pangan lokal justru memberikan kondisi kesehatan yang lebih baik. Murah, mudah dijangkau, tidak banyak terpapar bahan kimia sintetis, dan mungkin lebih cocok dengan gen masyarakat yang tinggal di tempat tersebut. Namun diatas semua itu, hal yang paling penting adalah komitmen orangtua merawat anak dengan cinta. Biar makan sederhana, kalau diberi dengan cinta, anak akan tumbuh sehat.Orangtua pun harus tetap berusaha mencari rejeki agar bisa menghidupi keluarganya.

Semoga kondisi anak tersebut semakin sehat. Amin.

Post Comment

You May Have Missed