Tekad Tulus Orangtua untuk Tumbuh Kembang Anak
Tulisan ini berdasarkan pengalaman saya ketika bekerja di kecamatan terpencil, Kab. Flores Timur, Provinsi NTT. Tahun 2022.
Sebagai nutrisionis, saya belajar banyak hal selama bertugas di lapangan/lingkungan masyarakat.
Pendekatan khusus sangat dibutuhkan. Kadang melelahkan, tetapi harus tetap semangat.
Hingga saat ini, stuntingmasih menjadi masalah gizi yang diperbincangkan. Definisi stunting berdasarkan WHO adalah tinggi badan anak tidak sesuai dengan tinggi badan anak seusianya dimana hal ini menimbulkan risiko penurunan kognitif dan imunitas anak. Di Indonesia, Standar Antropometri Anak tertuang dalam PMK No. 2 Tahun 2020. Salah satu tugas nutrisionis tentunya tidak lain ialah melakukan pengukuran dan menentukan kategori tinggi badan anak apakah normal, pendek atau tinggi. Kami menggunakan aplikasi E-PPGBM (Elektronik Pencatatan dan Pelaporan Gizi Balita berbasis Masyarakat) untuk mengecek kategori tinggi badan anak dan juga nilai z-scorenya. Anak yang pendek dan berisiko pendek biasanya akan kami kunjungi. Kunjungan rumah sebagai bentuk pendekatan personal untuk mengetahui secara detail masalah yang terjadi atau risiko penyebab terjadinya masalah gizi pada anak.
Kunjungan Rumah Pertama : An. LGS
Pemantauan Kesehatan pada anak LGS berkaitan dengan hasil pengukuran antropometri yang menunjukkan bahwa BB/U Normal (namun berisiko kurang) dan PB/U Sangat Pendek. Kunjungan pertama dilakukan saat beliau berusia 6 bulan atau usia awal pemberian MP-ASI. Berdasarkan hasil wawancara kami baik di posyandu maupun kunjungan rumah, anak tidak diberi ASI secara maksimal sejak usia 0 bulan melainkan susu formula. Pemberian ASI hanya sesekali saja, alasannya adalah produksi ASI tidak lancar. Susu yang dikonsumsi adalah Susu L. Kami banyak berdiskusi tentang catatan pertumbuhan anaknya dalam KMS, faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya stunting. Sesekali ibunya juga membandingkan kesehatan bayinya dengan anaknya yang lain saat mereka masih bayi. Panjang cerita setelah diskusi, saya pun memberi saran terkait pola makan anak.
Memasuki usia MP-ASI, saya memberi saran agar fokus pada makanan padat gizi dan coba tetap menyusui. Saya juga merekomendasikan agar sebagian alokasi dana pembelian susu dialihkan pada belanja makanan padat gizi. Kami membuat perbandingan, daripada membeli 1 kotak susu seharga 125.000 lebih baik ditukar dengan pisang 1 sisir Rp 10.000, kacang ijo 1 kg 30.000, sayur 1 ikat Rp 5.000, telur ayam kampung 1 bh Rp 2.500 dan bahan makanan lainnya. Informasi PMBA lainnya yang kami sampaikan pada orangtua ialah tentang variasi, frekuensi, jumlah, tekstur makanan yang dikonsumsi oleh anak. Saya juga menyampaikan bahwa pemberian makan secara berulang akan meningkatkan penerimaan anak terhadap makanan tertentu. Selain mengatur pola makan anak, tak lupa saya memberitahu orangtua agar sering mengajak anak berkomunikasi dan bermain untuk mendukung perkembangan anak.
Menjadi Sasaran Intervensi PMT-GC
Berkaitan dengan program intervensi Pemberian Makanan Tambahan Gerobak Cinta, An. LGS juga terlibat sebagai sasaran intervensi selama 90 hari. Teknis pemberian makan yaitu 2x makan besar dan 1x selingan dimana orangtua terlibat langsung dalam proses pengolahan makanan. Selama proses intervensi, ibu sasaran tampak memiliki motivasi yang besar karena selalu bersemangat mengolah makanan sesuai menu dan porsi yang ditentukan. Menu yang disajikan memanfaatkan jenis makanan yang tersedia di wilayah tersebut. Ada sorgum, kacang-kacangan, berbagai jenis sayuran, ikan hasil tangkapan laut di wilayah tersebut, daging ayam, dan jenis makanan lainnya. Pemantauan kesehatan sasaran intervensi terlaksana sekali dua minggu disertai evaluasi dan pemberian edukasi tumbuh kembang anak. Hasil pemantauan pada bulan kedua menunjukkan pertumbuhan berat dan tinggi badan yang cukup baik. Berlanjut pada bulan ketiga proses intervensi juga menunjukkan hasil yang semakin baik yakni berat badan dan panjang badan anak berada dalam kategori normal. Meskipun lahir dengan kondisi sangat pendek, pola asuh yang tepat bisa mengejar ketertinggalan tumbuh kembang. Dalam ilmu tumbuh kembang, kami mengenalnya dengan proses kanalisasi. Saya selalu percaya bahwa perubahan baik pada anak akan tampak pada orangtua yang penuh tekad tulus dan totalitas. Kami sebagai tenaga kesehatan dan kader hanya memberi saran dan mendampingi, namun proses pendampingan anak seutuhnya merupakan tugas orangtua dan pola pengasuhan di rumah.
Post-Intervensi PMT-GC
Setelah proses intervensi berakhir, saya masih sering bertanya pada ibu sasaran apakah masih menerapkan pola yang sama seperti PMT-GC atau tidak, dan respon beliau ialah masih menerapkan hingga saat ini. Cemilan dengan olahan pangan lokal masih diberi hingga saat ini. “Saya selalu ingat kata Ibu Ondang, daripada harus keluar uang banyak untuk beli susu, lebih baik disisihkan untuk beli makan adek nong. Sampai saat ini saya masih rutin buat snack adek. Kadang saya buat pisang sorgum, puding kelor, pokoknya snack jam 3 sore wajib untuk adek”katanya. Ibunya bercerita kalau anggota rumah tangga lain memang kadang dikorbankan perihal tentang makanan. Sikap konsisten yang menjadi pilihan ibu menunjukkan pertumbuhan dan perkembangan yang baik pada anak dan terpantau dalam grafik KMS-nya. Saat sesi sharing dengan ibu bayi balita lainnya, beliau menyampaikan kunci keberhasilan mengasuh dan memberikan makan anak yaitu sabar, komunikasi dengan suami terkait prioritas pengeluaran rumah tangga, makan terjadwal, fokus pada kualitas dan kuantitas makanan yang dikonsumsi, memperhatikan jam tidur anak, memberikan makanan yang sama secara berulang agar anak terbiasa dan tidak menjadi picky eater, jaga kebersihan anak, dan tentunya mengajak anak bermain di waktu luang.
Akhir tulisan ini saya menyampaikan bahwa perubahan besar anak akan tampak pada orangtua yang memiliki motivasi kuat. Hal ini juga tampak pada orangtua lain yang sering kami kunjungi dimana anak mereka semakin sehat ketika orangtua konsisten dan sabar memantau tumbuh kembang anaknya serta peka terhadap kondisi tubuh anak, sedangkan orangtua yang hanya menjawab “Ya” tanpa melakukan usaha untuk berubah lebih baik, mengeluh, mewajarkan kondisi anak, atau beralasan “sudah memang keturunan” juga tampak pada tumbuh kembang anak yang statis, tidak ada perubahaan, atau perubahan yang sangat sedikit.
Walaupun pengalaman ini masih cerita lama, saya rasa masih relatedengan kondisi sekarang dimana hantaman teknologi, jajanan instan, orangtua yang sibuk, kondisi sosial ekonomi keluarga dan kurangnya pengetahuan para pengasuh di wilayah tertentu menjadi tantangan untuk memantau pertumbuhan dan perkembangan anak.
Untuk para Bapak dan Ibu yang merawat anak dengan sepenuh hati, Semoga si kecil tumbuh menjadi anak yang sehat, percaya diri, dan penuh sukacita.




Post Comment