Jantung, Jiwa, dan Validasi Perasaan
Di era penuh validasi ini, tidak ada salahnya untuk memastikan apa yang kita rasakan. Validasi yang kita lakukan tentunya melalui proses refleksi diri. Jika merasa sedih, marah, kecewa, tidak tenang, kita tidak buru-buru menyalahkan orang lain, meminta orang lain untuk mengerti tanpa kita memahami apa yang sebenarnya kita alami. Begitu pula, perasaan damai, senang, gembira, kita juga tidak buru-buru senang berlebihan. Fluktuasi perasaan tiba-tiba senang atau sedih perlu pemaknaan akan kondisi diri-sendiri.
Tulisan yang saya bagikan saat ini berfokus pada perasaan damai, bahagia, dan motivasi yang kadang muncul. Saya sering bertanya-tanya, “ini kenapa ya? Apakah ini tanda kalau yang saya pikirkan atau saya lakukan sudah benar?” Kalau dipikir-pikir, sebenarnya apa yang saya lakukan biasa aja, tidak ada sesuatu yang wah, kadang kala juga terjadi hal yang tidak sesuai dengan ekspektasi. Setiap kali perasaan ini muncul, saya mencoba mencari tahu dan mendengarkan suara hati yang muncul. Pertanyaan yang sama juga selalu muncul “ini maksudnya apa?”.
Hingga akhirnya saya menemukan suatu buku berjudul Bahasa Rumah Kita Bersama yang menjelaskan tentang kenikmatan. Ada tiga jenis kenikmatan yang disebutkan dalam buku tersebut. Pertama, kenikmatan tubuh yaitu berupa nikmat makan. Kenikmatan ini akan dirasakan di bagian midriffatau sekitar perut. Kedua, kenikmatan intelektual yang dirasakan di kepala. Ketiga, kenikmatan spiritual yang disebut letaknya diantara perut dan kepala. Penulis menyebutnya sebagai “hati”. Meskipun secara anatomi dan fisiologis, hati termasuk dalam sistem pencernaan, menurut saya, makna “hati”yang dimaksud adalah jantung. Seperti halnya kita sangat familiar dengan sebutan jantung hati, kata hati, dan lain sebagainya. Demikian pula yang saya rasakan bahwa rasa damai dan bahagia yang muncul ialah di area jantung. Saya bisa merasakan irama jantung yang teratur. Saya tidak yakin bahwa ini bagian dari kenikmatan spiritual karena keadaan tersebut harus saya uji dahulu dengan sungguh-sungguh.
Rasa penasaran itu membawa saya untuk tidak hanya mendengarkan suara hati, tetapi juga mencoba memahaminya dari sudut pandang yang lebih luas. Sudah sejak lama, saya tertarik dengan organ jantung. Sistem kerjanya involunter, namun mampu memberikan sinyal bahagia, sukacita, cemas, sedih dan lain sebagainya. Saya jadi berpikir, apakah ada ruang perantara jiwa dalam organ ini atau mungkin ekpresi DNA pada sel otot jantung yang menimbulkan respon bahagia, sedih, dan lain-lain. Meskipun, lebih lanjut secara neurologis, Rene Descartes dalam buku tersebut menyebutkan bahwa kesucian dirasakan oleh otak, tepatnya di kelenjar pineal, yaitu saraf otak yang berperan sebagai takhta tempat komunikasi jiwa dan spirit. Otak menjadi penting untuk memberikan sinyal respon emosional itu.
Kelenjar pineal diketahui berperan mengatur ritme jantung. Hal ini bisa jadi penyebab mengapa otak dan jantung saling terkoneksi. Mungkin ini adalah hal yang menarik untuk diteliti lebih lanjut bagaimana perasaan yang kita alami, kita validasi melalui refleksi diri dengan berkaca apakah jiwa kita dan pikiran kita sudah cukup sehat dan selaras menghasilkan irama jantung yang teratur. Penutup dari tulisan ini, validasi perasaan melalui refleksi diri itu perlu dilakukan agar kita tahu cara menjaga diri tetap damai, apapun kondisinya… peace, love, and smile❤️




Post Comment