Garam Pertiwi dan Terang Dunia
Setiap minggu, kita mendengarkan khotbah sebagai bekal untuk menjalani hari-hari ke depan. Khotbah Minggu, 25 Januari 2026, disampaikan pesan sederhana namun mendalam: percayalah bahwa Tuhan akan menjadi terang dalam hidup kita. Terang itu tidak selalu menerangi seluruh jalan sekaligus. Ibarat lampu motor yang hanya menyinari dua atau tiga meter di depan, demikian pula hidup kita. Kita tidak melihat seluruh perjalanan, tetapi cukup untuk melangkah satu demi satu. Dua atau tiga meter itu adalah langkah hari ini. Kita diminta untuk menjalaninya dengan iman, setahap demi setahap, sambil percaya bahwa setiap langkah akan membawa kita semakin dekat pada sumber terang.
Ada empat jalan untuk mencapai terang tersebut, yang dapat kita sebut sebagai “4K”:
- Kebaikan (bonum) : memilih dan melakukan yang baik dalam tindakan sehari-hari
- Kebenaran (veritas) : hidup jujur dan setia pada nilai yang benar
- Kesucian (sanctum) : menjaga hati tetap bersih sehingga melahirkan sukacita
- Keindahan (pulchritudo) : menciptakan harmoni, terutama dalam keluarga yaitu suasana rukun, saling menghargai, dan guyub.
Hingga pada akhirnya kita menyadari bahwa terang dan kebahagiaan yang kita rasakan bukanlah semata-mata hasil usaha kita, melainkan karena kemuliaan Tuhan bersemi dan nyata dalam hidup kita. Tugas kita adalah menapaki, mengimani, menikmati, dan mensyukuri setiap langkah.
Mencapai dan menjadi terang ini diperdalam kembali dalam khotbah Minggu, 8 Februari 2026 yaitu menjadi Garam dan Terang Dunia. Jika dalam alkitab terjemahan disebutkan menjadi garam dunia, makna sesungguhnya ialah menjadi garam bumi “Hymeis este to halas tês gês / Kamu adalah garam bumi”. Garam bumi atau garam pertiwi nantinya akan mejadi terang dunia “Hymeis este to phôs tou kósmou / Kamu adalah terang dunia”.
Menjadi garam sering kali tidak terlihat, tetapi kehadirannya menentukan. Menjadi garam akan membawa terang yang berkenaan dengan keteraturan. Kósmouatau cosmosberarti alam semesta yang teratur. Jika tidak ada keteraturan, maka kita akan kacau. Tiba-tiba jatuh, tiba-tiba ngegas, dan lain-lain. Terang tidak lepas dari keteraturan itu.
Untuk menjadi terang, kita perlu pupuk. Pupuk tersebut ialah sikap menjadi garam pertiwi dalam kesetiaan, ketekunan, rela memberi diri tanpa harus selalu terlihat. Dalam kehidupan nyata, banyak garam yang bekerja diam-diam. Misalnya, di balik suami yang sukses, ada istri yang setia mendukung. Ia tidak tampil, namun menjadi pupuk untuk keluarganya. Sebuah restoran bisa terkenal karena pemiliknya, tetapi keberhasilan itu juga hasil kerja keras koki yang memasak dengan sungguh-sungguh dan para pelayan yang melayani dengan tulus. Mereka adalah garam di tempat mereka berada. Demikian pula dalam keluarga dimana anak yang aktif bermain adalah bagian dari keteraturan hatinya. Bermain menjadi bagian dari pertumbuhan yang sehat. Jika anak terlalu dibatasi karena kehendak orang tua, perlahan ia bisa kehilangan jati dirinya. Dalam dunia seni, ada karya-karya besar seperti karya Ludwig van Beethoven. Mahakarya yang dimainkan selama berabad-abad lahir dari ketekunan dengan jam-jam latihan yang panjang dan kesetiaan dalam kesunyian. Ia menjadi “garam” melalui kerja kerasnya, hingga akhirnya menghasilkan terang yang bisa dinikmati banyak orang.
Pesan akhirnya jelas yaitu “Jadilah garam pertiwi”. Jadilah pupuk melalui ketekunan dalam tugas sehari-hari, sekecil apapun itu. Jika seseorang diberi talenta lebih, kekayaan lebih, atau kesempatan menjadi publik figur, itu bukan alasan menjadi besar kepala, melainkan kesempatan untuk semakin bermanfaat. Semakin besar karunia, semakin besar tanggung jawab di hadapan Tuhan.
Empat K (4K)-Kebaikan, Kebenaran, Kesucian, dan Keindahan- adalah pupuk terbaik dalam hidup. Jika kita setia memupuknya, perlahan setiap orang akan menjadi terang. Dan terang itu bukan untuk kemuliaan diri-sendiri, melainkan untuk kemuliaan Tuhan. Meski hanya dua atau tiga meter di depan, maka marilah kita melangkah. Tapaki dengan iman, pelihara suara hati, dan jadilah garam yang setia. Tuhan sendiri yang akan membuat hidup setiap orang bercahaya pada waktu-Nya.
Terima kasih romo atas khotbahnya…
Gereja Katolik St. Gabriel Pulo Gebang, Cakung, Jakarta Timur.




Post Comment