Nutrigenomik: Pendekatan Gizi Personal berdasarkan Aspek Makanan
Kebingungan memilih makanan yang tepat kadang dialami oleh sebagian besar orang akibat berbagai misinformasi yang beredar di media sosial. Pasien asam lambung tidak dianjurkan mengonsumsi kopi. Untuk penderita asam urat, beberapa menganjurkan sayuran hijau, sedangkan yang lain tidak menganjurkannya. Belakangan ini, penderita asam urat direkomendasikan agar menghindari minuman manis mengandung fruktosa saja. Kasus lainnya, pasien diabetes tidak dianjurkan mengonsumsi semangka, air tebu, durian, dan lain sebagainya. Kebingungan ini disebabkan oleh generalisasi jenis makanan berdasarkan penyakit, bukan berdasarkan karakteristik keunikan tubuh masing-masing individu. Bagaimana seharusnya memaknai kesehatan melalui pemilihan makan tepat menurut takaran individu hingga bisa memahami istilah “you are what you eat” dengan baik?
UU Kesehatan No. 17 Tahun 2023 menyatakan bahwa kesehatan berarti keadaan sehat, baik secara fisik, jiwa maupun sosial yang bukan sekedar terbebas dari penyakituntukmemungkinkannya hidup produktif. Titik tertinggi kesehatan yaitu “wellness”yang merupakan keseluruhan harmoni atau integrasi menyeluruh antara kesehatan fisik, mental, spiritual, pikiran, dan jiwa. Sederhananya, kesehatan merupakan hasil integrasi dari apa yang kita lakukan (what we do) dan apa yang kita makan (what we eat). Lebih spesifik dalam metabolisme dan regulasi dalam tubuh, kesehatan tubuh manusia merupakan hasil dari interaksi kompleks antara genetik, lingkungan, dan pola makan masing-masing individu.
Pada lingkup kesehatan personal, keunikan dan kekhasan itu bisa dilihat dari perbedaan genetik, jumlah sel, enzim, hormon, variasi mikrobiota usus, dan kemampuan tubuh mencerna, menyerap dan memanfaatkan zat gizi/non-gizi tersebut. Hal tersebut menyebabkan adanya perbedaan metabolisme hingga regulasi di tingkat sel. Segala sesuatu yang dikonsumsi akan diolah dalam tubuh (dicerna, diserap, diedar ke organ tubuh, lalu terjadi regulasi siklus sel hingga akhirnya ekpresi genetik). Ekspresi genetik akan memberi respon/alarm tubuh baik pada jangka pendek maupun jangka panjang.
Nutrigenomik dan nutrigenetik menjadi bukti bagaimana makanan berinteraksi dengan genetika seseorang. Nutrigenetik adalah interaksi antar gen dan zat gizi, sedangkan nutrigenomik merupakan ekspresi genetik sebagai hasil dari interaksi gen dan diet yang dikonsumsi di tingkat sel. Eskpresi genetik tersebut akan memunculkan respon kesehatan bagi masing-masing individu. Dengan demikian pendekatan nutrigenetik dan nutrigenomik menjadi gambaran “personalised nutrition”.
Penentuan makanan/minuman yang cocok pada setiap orang disesuaikan berdasarkan karakteristik gen-nya. Masalahnya adalah, seseorang tidak dapat mengetahui komposisi gen dalam tubuhnya. Setiap orang memiliki sensitivitas terhadap pengaktifan gen tertentu yang memicu timbulnya suatu penyakit. Misalnya, gen FTO. Pada sebagian orang, konsumsi makanan tertentu dapat mengaktifkan gen tersebut sehingga muncul risiko terjadinya obesitas. Uniknya, setiap orang bisa meng-on/off-kan gen risiko penyakit tertentu tergantung dari pola hidup yang dilakukan sehari-hari.
Cara sederhana untuk mengetahui makanan/minuman yang cocok dengan karakteristik masing-masing adalah peka terhadap respon fisiologis atau alarm tubuh yang muncul. Tubuh adalah laboratorium tercanggih yang dimiliki oleh setiap orang dimana tanpa disadari, otak memberi perintah untuk menjaga keseimbangan metabolisme dan regulasi tubuh. Contoh respon tubuh sederhana ialah pusing, flu, gatal-gatal, rasa tidak nyaman di perut seperti kembung, ada rasa mual, diare, atau sakit perut. Memberi pertanyaan pada diri sendiri juga salah satu cara untuk merefleksikan respon tubuh. Misalnya dengan bertanya “tadi makan apa ya?”. Efek yang berulang saat konsumsi makanan yang sama dapat menjadi sinyal agar kita membatasi konsumsi jenis makanan tersebut. Makanan yang sama belum tentu memberikan dampak kesehatan yang sama pada individu yang berbeda.
Istilah “makan aja terus, biar tubuhnya kebal” bukan menjadi solusi terbaik. Ini bukan soal kebal dan tidak kebal. Jika tubuh sensitif artinya tubuh peka terhadap hal yang tidak sesuai untuknya. Tenaga kesehatan boleh memberi informasi tentang makanan, kandungan gizi serta manfaatnya, tetapi alarm tubuh hanya diri kita yang tahu. Sensitivitas menjadi tanda pencegahan awal setiap orang. Membiarkan diri secara bebas mengonsumsi segala jenis makanan akan membebani kerja organ tubuh dan menimbulkan penyakit di masa yang akan datang, seperti istilah “bom waktu”.
Nutrigenomik dan nutrigenetik memberikan wawasan tentang kompleksitas respon tubuh terhadap makanan yang dikonsumsi dan hal ini membuktikan bahwa pentingnya pendekatan personal untuk merancang jenis makanan sehat sesuai kondisi dan kebutuhan tubuh. Gagal memahami tubuh, gagal mengantisipasi kejadian penyakit di masa depan.
Memilih jenis makanan yang sesuai dengan karakteristik tubuh memerlukan keseimbangan antara kepentingan “ego” sekedar memilih enak atau memilih makanan sehat sesuai kebutuhan tubuh. Semua pilihan ada di tangan kita. Terapkan 4 cek untuk mengetahui respon tubuh, cek rasa makanan di lidah, cek reaksi perut, cek reaksi otak (nyaman/tidak), cek limbah BAB. “You are what you eat”.




Post Comment