KESEHATAN IBU DAN JANIN DALAM PERSPEKTIF IMAN
Ibu hamil merupakan bagian dari skenario Sang Pencipta. Kitab Kejadian 2:7 “Ketika itulah Tuhan Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup” memberikan makna bahwa Allah adalah pemberi kehidupan dengan cara menghembuskan nafas-Nya. Hal ini berarti bahwa anak merupakan pemberian Allah. Selalu ada kerinduan bagi keluarga besar khususnya sepasang suami-istri untuk dianugerahi anak. Kitab Mazmur 127:3 yang berbunyi “Sesungguhnya, anak-anak lelaki adalah milik pusaka dari pada Tuhan, dan buah kandungan adalah upah” juga memberi makna bahwa anak adalah berkat Tuhan dan jaminan kemakmuran.
Tidak ada kehamilan yang tidak diinginkan oleh Allah karena jiwa berasal dari Allah. Persoalan yang sering ditemui di lingkungan masyarakat dan lingkup kesehatan adalah kehamilan yang tidak diinginkan oleh sang ibu/keluarga karena alasan tertentu. Penolakan berkepanjangan terhadap janin akan menyebabkan gangguan janin. Bagi orang Katolik, Bunda Maria adalah tokoh teladan yang patut ditiru karena sikap beliau menyambut kehamilan / buah dari Roh Kudus dengan penuh kegembiraan. “Terjadilah Padaku menurut Perkataan-Mu”. Bunda Maria percaya bahwa Allah akan selalu mendampingi hidupnya dan janin yang sedang ia kandung. Keyakinan dan keimanan Ibu Maria melalui sikap pasrah sepatutnya terpancar melalui Sikap dan Perilaku Hidup Sehat seorang ibu hamil baik untuk mendukung kesehatan fisik maupun jiwanya.
Mengambil peran utama untuk menjaga janin membuat ibu hamil terlibat sebagai aktor penting penentu kualitas kesehatan bayi yang akan dilahirkan. Kendali utama dipegang oleh Ibu Hamil. Segala sesuatu yang dilakukan dan dirasakan oleh ibu hamil akan berpengaruh secara langsung terhadap janin. Dengan demikian, ibu hamil sepatutnya setia memelihara kesehatan tubuh dan jiwanya. Seperti ibu hamil menjaga diri dan buah-hatinya, janin juga demikian menjaga dirinya dan ibunya. Janin selalu memberikan respon terhadap intervensi yang dilakukan oleh sang ibu. Seorang janin mengetahui apa yang dibutuhkan oleh tubuhnya untuk mendukung proses pertumbuhan dan perkembangan. Hal ini berarti ia memiliki hak sejak dini untuk menentukan kesehatan tubuhnya karena segala sesuatu yang diterima olehnya bukan lagi kepunyaan ibunya melainkan miliknya (janin itu sendiri).
Selama masa kehamilan, seorang ibu biasanya mendapat banyak intervensi dari lingkungannya. Kerap kali ibu hamil mendengar kata-kata “makan saja apa yang bisa dimakan. Tidak ada batasan makanan selama hamil. Jangan sampai anak lahir stunting”. Ada juga kalimat lain seperti “Jangan terlalu banyak makan. Tidak apa-apa kecil didalam, nanti dipantau lagi setelah lahir”. Kalimat-kalimat diatas perlu dikoreksi. Ibu hamil tidak boleh makan secara berlebihan, pun sebaliknya tidak boleh makan berkekurangan. Ibu hamil pun tidak diperkenankan makan sembarangan. Takaran makan secukupnya dan memilih makanan yang harus dikonsumsi sesungguhnya diketahui sendiri oleh ibu hamil jika mampu peka dan baik merespon “alarm tubuhnya”.
Posisi melintang pada janin merupakan salah satu respon dan keputusan si kecil untuk menghindari makanan/minuman yang kurang baik baginya akibat makanan yang dikonsumsi oleh sang ibu. Kepala menjadi organ pertama yang diselamatkan sehingga posisinya tidak berada di bagian bawah, dekat dengan jalan lahir, tetapi sebaliknya. Bagian kepalanya justru berada di bagian atas rahim ibunya.
Bacaan dalam kitab Sirakh 30:25 “Hati yang riang dengan girang makannya, dan makanan selamat baginya” merupakan salah satu cara untuk tetap bersukacita dan mensyukuri hidangan yang telah disajikan. Berkaitan dengan respon tubuh, bacaan Sirakh 31: 20-22 “Makan sedikit saja disertai tidur nyenyak, pagi-pagi bangun dan segarlah rasanya. Tidak dapat tidur, muntah, dan sakit perut, itulah bagian orang yang lahap. Jika engkau terpaksa makan terlalu banyak, bangunlah, pergi memuntah, maka engkau akan merasa lega” jelas menunjukkan bahwa manusia termasuk ibu hamil memiliki pedoman makan yang tepat sesuai keunikan tubuh dan kondisi fisiologisnya baik dari segi jumlah, jenis, dan frekuensi makannya. Menurut Werawan et al(2015), bentuk penolakan janin terhadap makanan yang dikonsumsi oleh ibunya berupa ngidam, mual dan muntah, nyeri perut dan diare, dan bayi menendang-nendang ke arah lambung ibunya.
Apa yang dirasakan oleh ibu, akan dirasakan langsung oleh sang janin. Janin mampu merasakan setiap detak jantung ibu. Semakin meningkat detak jantung ibu, semakin aktif pula janin bergerak. Seperti halnya stres akan meningkatkan detak jantung ibu hamil. Peningkatan detak jantung bisa saja disebabkan oleh banyak faktor antara lain cemas, pikiran negatif, kurang tidur, marah, relasi yang tidak baik dengan keluarga atau lingkungannya, dan lain-lain. Kondisi psikologis yang kurang baik tanpa disadari akan mempengaruhi perilaku makan ibu hamil sehingga nafsu makan terganggu dan tumbuh kembang janin juga akan terganggu. Akibatnya, anak lahir dengan berat badan lahir rendah, autis ataupun cacat. Dampak perilaku makan berlebihan pada ibu hamil juga dapat menyebabkan kelebihan berat badan/obesitas sehingga berisiko mengalami penyakit seperti diabetes gestasional. Dengan demikian, para ibu hamil diharapkan dapat memelihara sikap dan perilaku hidup sehat dan seimbang baik dari segi fisik, mental, sosial, dan spiritual.
Pengkhotbah 11: 5 “Sebagaimana engkau tidak mengetahui jalan angin dan tulang-tulang dalam rahim seorang perempuan yang mengandung, demikian juga engkau tidak mengetahui pekerjaan Allah yang melakukan segala sesuatu”. Allah mengambil peran atas segala peristiwa kehidupan kita. Tuhan akan selalu memandang setiap ibu hamil yang bertekun dalam sikap dan perilaku hidup sehat, terutama sehat secara jiwa. Terimakasih.




Post Comment