Curhat Pak Ojek

Saya beri judul #CurhatPakOjek saja.

Awalnya saya mau pesan ojek online dari aplikasi, tapi hati dan kaki saya menuntun untuk melipir ke kiri dan bertemulah dengan bapak-bapak pengemudi ojek online.

“Pak, ojek ya, pakai kode saja” kataku.

“Ojek teh? Kemana teh?” jawab salah satu bapak ojek disitu.

“Stasiun, pak” jawabku

“Oia boleh teh, langsung saja teh” katanya

“Ga pakai kode pak? Banyak potongan ya pak? Harga tetep sesuai aplikasi ya pak” jawabku sembari tersenyum.

“Tau-tau aja teh.. ia teh.. sesuai aplikasi aja” kata bapak tua itu.

“Oke pak” kata ku..

Beliau menuju motor, menyalakannya dengan starter kaki. Gerakannya cukup gesit.

Saya menaiki motor dan kami berangkat. Tak sengaja, saya melihat beliau menepuk-nepuk motornya, seolah-olah berbicara dengan motor, tapi saya tidak mendengar jelas apa yang dikatakan beliau.

Tiba-tiba….

“Saya sudah keluar dari jam setengah 6 teh, tapi baru ada penumpang. Teteh penumpang pertama saya” kata bapaknya.

“Oia pak” jawab ku singkat..

“Saya bawa pelan-pelan sambil cerita tidak apa-apa ya teh” katanya.

“Ia pak gapapa pak” jawab ku meskipun sebenarnya hari itu sangat panas dan kaki ku sepertinya sudah mulai terasa panas dan gosong.

Beliau mulai bercerita kalau anaknya sedang kuliah semester akhir dan sedang sibuk penelitian akhir untuk skripsinya. Sehari-hari beliau bekerja sebagai pengemudi ojek. Beliau cerita kalau anaknya dapat beasiswa selama kuliah termasuk untuk biaya penelitian. Meskipun dapat beasiswa, kadang-kadang beliau juga harus mengirim uang karna biaya-biaya lain.

“Teh, kalau beasiswa gitu kadang ngga cukup ya?” tanya beliau

“Kurang tau sih pak. Tapi bisa jadi harus nambah. Kalau penelitiannya butuh dana banyak dan biaya penelitian dari beasiswa ga cukup, biasanya kita yang nambah sendiri pak” jawab ku.

“Oh gitu ya teh?” jawabnya

“Ia pak” kata ku kembali.

Kembali lagi ia bercerita tentang anaknya yang lulus program fast track S1-S2, tapi dari informasi beliau, anaknya tidak jadi ambil karna alasan tertentu. Anaknya juga mau kerja dulu. “Saya sayang bapak, saya sayang adek-adek. Saya harus bertanggungjawab untuk diri saya sendiri, bapak dan adek-adek”. Kira-kira seperti ini pernyataan anaknya yang ditirukan beliau saat menyampaikannya kepada saya.

Beralih ke cerita lain, beliau juga cerita kalau beliau ini sering cerita dengan penumpang sembari cari-cari informasi, misalnya beasiswa. Beliau juga pernah merekomendasikan salah satu beasiswa ke anaknya yang didaftarkan juga oleh anaknya. Pesan beliau, kalau isi formulir beasiswa harus jujur.

Kembali ke cerita anak perempuan pertama yang sedang menempuh kuliah, beliau anjurkan untuk fokus kuliah dulu. Beliau cerita, seorang laki-laki yang cukup mapan mau meminang anaknya tapi beliau kurang setuju meskipun pihak laki-laki sudah menjanjikan akan bantu biaya sekolah adik-adiknya. “namanya keluarga, pasti ada urusan dan masalahnya masing-masing ya teh. Saya ga mau jadi beban. Biar miskin, jangan rendah diri, harus tetap maju” kata beliau. Beliau ingin anaknya fokus kuliah dan menyelesaikannya sampai dapat rejeki kerjaan yang baik.   

Sepanjang jalan, kami bercerita. Beliau banyak curhat tentang anak-anaknya. Di pertengahan jalan menuju stasiun, beliau cerita anak keduanya yang bercita-cita jadi dokter.

“Anak saya dari kecil sampai sekarang mau masuk SMA, masih mau jadi dokter” kata beliau.

“oia pak, keren pak” jawab ku.

“Harus rajin belajar ya pak, karna saingannya banyak. Mungkin ada yang titip kursi juga” kata saya.

“Ia teh, saya juga mikir bergitu. Kadang-kadang saya nangis. Tapi saya gaboleh nangis di depan anak-anak. Harus semangat terus” Jawab beliau.

Beliau bercerita kalau anak perempuan sulungnya akan tetap perjuangin adeknya jadi dokter.

Tak terasa hampir tiba, beliau cerita lagi tentang anak ketiganya seorang laki-laki yang masih duduk di bangku SMP. Beliau bercerita tentang cita-cita anaknya. Sepanjang perjalanan dibawah terik matahari, kami saling bercerita. Apa yang bisa saya bagikan, juga saya beritahu ke bapak tersebut.

Seluruh cerita beliau memberi pelajaran bagi ku kalau seorang ayah akan selalu bercerita tentang hal-hal baik atau pencapaian anak-anaknya, selalu mengusakan yang terbaik untuk anaknya misalnya dengan mencari informasi dan mencari nafkah, selalu mendukung cita-cita anaknya, keterbatasan ekonomi bukan menjadi masalah asal berusaha dan minta pertolongan dari Sang Pencipta. Cerita seperti ini juga sudah pernah dari bapak ojek yang lain. Beliau dengan rasa bangga menceritakan anaknya yang kini sudah bekerja sebagai masinis. Semoga para seluruh orangtua yang sedang mengusahakan yang terbaik untuk keluarga dan anaknya diberi kesehatan, umur yang panjang, dan dimudahkan segala rejekinya. Amin.   

Keluarga adalah yang pertama dan utama untuk dijaga relasinya dan diperjuangkan segala niat baiknya.

Post Comment

You May Have Missed