Mencintai Diri Sendiri
Beberapa minggu yang lalu, aku sengaja menyetel alarm pukul 03.00 pagi dan diberi jeda per 15 menit agar bisa bangun pagi dan tidak ketinggalan bis pertama. Alarm itu bertahan hingga saat ini. Berisiknya suara alarm jadi salah satu alasan ku bangun lebih awal setiap harinya. Baru-baru ini, sekitar pukul 3-an, rasanya masih mager, namun ada yang berbeda. Tiba-tiba saja muncul rangkaian kata “mencintai diri-sendiri” dan saat itu pula aku merasa damai dan tersenyum. Pikiran ku mencoba mengelabui kalimat tadi menjadi mencintai semua orang-agar tidak terkesan ego, namun rasanya ada penolakan. Aku bangkit dari tidur ku dan mencari-cari aktivitas yang bisa kukerjakan, sesekali pikiran ku melayang ke kalimat yang muncul saat subuh itu.
Aku coba mencari makna kalimat “Mencintai Diri-Sendiri”. Ini bukan sekedar ego untuk fokus pada kepentingan pada diri sendiri, namun lebih dari itu. Sepertinya sebuah pesan kepada ku untuk mencintai diri terlebih dahulu sebelum benar-benar bisa mencintai orang lain. Mencitai diri-sendiri mungkin berupa kemampuan untuk menerima diri-sendiri termasuk kekurangan, mau memperbaiki diri, mau melakukan aktivitas-aktivitas dan berani memanfaatkan waktu sebaik mungkin setiap harinya. Mungkin itu ya.
Orang yang berani mencintai diri-sendiri juga mungkin tidak akan menyia-nyiakan dirinya melakukan hal yang tidak berarti atau mendukung kompetensi diri masing-masing.
Mungkin itu saja yang bisa dibagikan saat ini dari kata-kata “Mencintai diri-sendiri”.




Post Comment