Kompleksitas Metabolisme Dan Racun Tubuh Manusia
Setiap manusia terlahir unik. Sidik jari yang tidak pernah sama antara satu individu dengan individu lain adalah bukti nyata bahwa tidak ada satu pun manusia yang benar-benar identik, bahkan pada anak kembar sekalipun. Jika dilihat lebih dalam, tubuh manusia memiliki kompleksitas yang luar biasa, terutama dalam hal metabolisme dan reaksi terhadap zat asing, termasuk makanan.
Banyak yang menyangka bahwa tubuh manusia bisa dinilai hanya dari gejala luar atau hasil pemeriksaan medis standar. Apakah tekanan darah (misalnya 120/80) pada individu yang berbeda menandakan aliran darah dan kerja jantung yang identik? Apakah setiap individu memiliki hormon atau enzim bekerja dalam kondisi yang sama? Apakah setiap individu memiliki daya serap zat gizi yang sama? Nyatanya, tidak. Tubuh memiliki cara kerja yang berbeda-beda dan tidak ada satu standar tunggal yang dapat menjelaskan secara menyeluruh.
Tubuh yang Rumit, Jiwa yang Peka
Keunikan tubuh manusia membuat kesehatan perlu bersifat personal. Dalam sesi konseling, hal ini belum sepenuhnya dapat diterapkan karena setiap orang masih sering dianjurkan mengonsumsi apapun selama takarannya pas. Namun, cara pandang saya berbeda ketika saya bergabung dalam Bimbingan Hidup Sehat (BHS) oleh Opa Antonius Porat sejak tahun 2018. Saya mulai mengenal racun tubuh. Tubuh manusia memiliki cara tersendiri dalam memilih apa yang dibutuhkan dan menolak apa yang dianggap sebagai racun. Racun dalam hal ini ialah “makanan yang tidak cocok secara metabolik atau genetik pada masing-masing individu”. Beberapa hal yang telah saya terima dari bahan kuliah ilmu gizi berbeda dengan apa yang saya peroleh dalam BHS. Meskipun demikian, saya yakin selalu ada kebenaran sesungguhnya dibalik sebuah ilmu pengetahuan yang selalu dikembangkan. Contoh sederhana yang saya pelajari melalui racun tubuh ini ialah telur mungkin aman bagi individu A, tapi tidak aman bagi individu B, C, D karena kemungkinan dampak jangka panjang yang terjadi ialah masalah reproduksi, jantung, kegemukan atau masalah lainnya. Saya juga mulai memahami bahwa makanan bukan sekedar jumlah kalori, karena dalam komunitas ini, seluruh anggota yang berusia 25 tahun keatas dianjurkan untuk berpuasa/autofagi. Melalui proses berpuasa, kita belajar untuk menahan diri dan diberi kepekaan untuk memahami makanan yang layak dan cocok dikonsumsi.
Mendengarkan Tubuh: Dari Reaksi Fisik hingga Suara Jiwa
Respon tubuh seperti mual, muntah, diare, pusing, tidak enak di lidah atau bahkan perasaan enggan terhadap makanan tertentu bisa menjadi alarm alami dari tubuh. Tubuh sedang berbicara kepada pemiliknya. Diare, misalnya, tidak selalu bersifat infeksi bakteri, namun cara tubuh mengeluarkan makanan yang dianggap tidak layak untuk diterima.
Saya meyakini bahwa manusia dibekali bukan hanya tubuh, melainka jiwa yang memiliki sensitivitas tinggi terhadap kondisi fisik. Melalui jiwa, roh kudus menuntun kita mengetahui apa yang baik dan tidak baik dikonsumsi. Suara hati yang menolak suatu makanan bisa menjadi petunjuk penting yang tidak boleh diabaikan.
Perspektif Alternatif terhadap Penyakit
Pengalaman bergabung dalam BHS mengubah cara pandang saya terhadap penyakit. Contohnya, kondisi maag yang selama ini dianjurkan untuk diatasi dengan makan dalam porsi kecil namun sering, justru sembuh melalui puasa dan minum kopi pahit (bagi yang tidak racun kopi). Ada yang sembuh dari diabetes dengan mengonsumsi durian, ada yang sembuh dari stroke karena tidak makan daging dan berbagai macam racun tubuh lainnya.
Jika dipikirkan kembali, masuk akal bahwa lambung yang sedang meradang seharusnya diberi istirahat, bukan terus-menerus diisi. Pespektif lain menurut ilmu pengetahuan, dilarang memberi durian pada pasien diabetes ternyata sembuh dengan mengonsumsi buah tersebut. Lagi-lagi, pasien yang seharusnya diberi protein tinggi justru dilarang mengonsumsi seluruh jenis daging dan turunannya agar lekas pulih dari sakitnya. Terlepas dari hal tersebut, banyak penyakit sebenarnya tidak hanya berasal dari pola makan, tetapi dari beban pikiran, stres, kebiasaan mengeluh, sering kecewa karena tuntutan tidak dapat terpenuhi, rakus, malas, kesombongan yang merupakan penyakit jiwa. Apalah arti tubuh tanpa jiwa, hanya sebatas tubuh yang mati seperti mayat.
Mengasah Kepekaan: Kunci Kesehatan Holistik
Kompleksitas tubuh manusia tidak bisa disederhanakan dengan teori medis semata, maka penting bagi setiap individu mengasah kepekaan terhadap dirinya-sendiri. Tubuh memberikan tanda-tanda, kita hanya perlu membaca dan memahaminya. Setiap orang memiliki kebutuhan yang berbeda. Apa yang menjadi racun bagi satu orang bisa jadi obat bagi yang lain. Oleh karena itu, penting untuk tidak memaksakan standar umum bagi semua orang, melainkan memahami bahwa kesehatan merupakan perjalanan pribadi yang melibatkan tubuh, jiwa, dan kesadaran yang terlatih. Karena kesehatan adalah hubungan harmonis antara tubuh dan jiwa-ketika kita belajar mendengar, mengenali, dan menghargai kebutuhan unik yang Tuhan ciptakan dalam diri kita masing-masing.




Post Comment