Implementasi From Feeding to Nourishing dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG)

MBG: Dari Program Makan Gratis ke Investasi Kesehatan Publik

Pergeseran paradigma from feeding to nourishing dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) disampaikan oleh Dr. Gamal Albinsaid pada rapat Komisi IX DPR RI. Gagasan ini sejalan dengan pandangan yang sebelumnya saya tuliskan pada 19 Januari dalam artikel berjudul “Menu MBG Bukan Sekadar Makan Gratis (https://mamora.co/2026/01/19/menu-mbg-bukan-sekadar-makan-gratis/)” bahwa MBG merupakan bagian dari isu kesehatan publik yang berdampak jangka panjang. MBG tidak cukup dipahami sebagai program pemberian makan untuk mengatasi lapar sesaat, melainkan investasi gizi yang menentukan kualitas tumbuh kembang dan kesehatan anak, remaja, ibu hamil, bayi, dan balita baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Jika MBG gagal sejak desain menunya, maka negara berisiko membayar mahal di kemudian hari melalui meningkatnya beban obesitas, diabetes melitus, hipertensi, dan penyakit degeneratif lainnya. Paradigma nourishingmenuntut tanggung jawab etis yaitu makanan harus memberi manfaat nyata bagi kesehatan, bukan sekedar mengenyangkan.

Prinsip Menu MBG Berkualitas: Pangan Lokal dan Minim UPF

Implementasi from feeding to nourishingtercermin secara konkret dalam penyusunan menu MBG. Prinsip utamanya adalah memanfaatkan pangan lokal dan menghindari pangan ultra-proses (ultra-processed food/UPF). Jenis UPF yang perlu dihindari antara lain mie instan, sosis, nugget, biskuit pabrikan, minuman manis, serta makanan dengan kandungan gula, garam, dan lemak trans berlebih. Jika makanan yang disajikan berorientasi pada “yang penting enak dan habis”, maka tanpa sadar kita sedang melatih penerima manfaat, khususnya anak sekolah menyukai pola makan miskin gizi. MBG seharusnya menjadi sarana edukasi pangan sejak dini, bukan memperkuat ketergantungan pada produk industri.

Indonesia tidak kekurangan pangan lokal. Di NTT, nasi jagung adalah kearifan lokal. Di Papua, papeda telah lama menjadi sumber karbohidrat utama. Wilayah pesisir memiliki ketersediaan ikan yang berlimpah. Secara nasional, produksi perikanan jauh lebih tinggi dibandingkan produksi sapi, dimana daging sapi masih banyak bergantung pada impor. Dilansir melalui portal data Kementerian Kelautan dan Perikanan, data volume produksi perikanan budidaya pembesaran per komoditas utama (ton) pada tahun 2025 sebanyak 13.215.813,91 Ton. Sementara itu, produksi daging (termasuk sapi dan kerbau) mencapai 515.597 ton pada tahun 2025 berdasarkan data BPS Peternakan dalam Angka 2025. Perbandingan ini menunjukkan bahwa ikan seharusnya dapat dioptimalkan sebagai sumber protein utama dalam MBG, sebagaimana Indonesia juga termasuk negara kepulauan. Dengan demikian, program ini tidak hanya meningkatkan status gizi, tetapi juga menggerakkan ekonomi lokal sekaligus penguat kedaulatan pangan. Contoh menu berbasis lokal antara lain nasi jagung, nasi kelor, ikan kuah kuning, ayam kukus bumbu rempah, ikan bumbu kuning, sayur labu siam, sayur tumis wortel buncis, buah semangka, pisang, melon, jeruk, pepes tahu/tempe, sate tahu, dan mungkin bisa ditambah snack seperti puding buah, dan masih banyak lagi.

Selain pemilihan bahan pangan, teknik pengolahan juga menentukan kualitas gizi. Setiap metode pengolahan memberikan kandungan gizi yang berbeda. Misalnya, kandungan gizi ayam goreng yang dimasak dengan metode deep frying berbeda dengan ayam kukus atau ayam kuah bumbu. Teknis sederhana seperti rebus, kukus, dan tumis cepat, lebih hemat minyak, lebih menjaga zat gizi dan lebih aman secara pangan. Jika teknik menggoreng digunakan, sebaiknya tidak dilakukan setiap hari. Keberhasilan MBG juga tidak ditentukan oleh ada atau tidaknya susu. Jauh lebih penting adanya konsistensi konsumsi pangan sumber karbohidrat, protein hewani, nabati, sayuran, dan buah atau pangan lokal yang beragam. Selama komposisi gizi terpenuhi, maka ketergantungan pada pangan tertentu/UPF tidak diperlukan.

Tantangan Sesungguhnya : Perubahan Perilaku, Monitoring, dan Evaluasi Dampak Program

           Masalah MBG bukan hanya dapur, tetapi perilaku makan anak. Ada pengalaman menarik ketika seorang orang tua bercerita bahwa awal pelaksanaan MBG, anak diwajibkan menghabiskan sayur. Namun belakangan tidak lagi. Hasilnya, anak tetap tidak suka sayur. Sayur, salah satu sumber vitamin dan mineral menjadi sumber zat gizi mikro penting bagi anak. Jika konsumsi sayur kurang, masa anak berisiko mengalami defisiensi atau kekurangan zat gizi mikro. Oleh karena itu, MBG perlu disertai pendidikan gizi di sekolah untuk meningkatkan kesadaran anak tentang makanan sehat dan bergizi. Program yang menghabiskan triliunan rupiah anggaran negara tidak boleh diukur hanya dari jumlah porsi yang disalurkan. Indikator keberhasilan harus mencakup dampak nyata terhadap kesehatan dan produktivitas anak.

            Proses monitoring dan evaluasi dampak program MBG mungkin perlu terintegrasi dalam sistem digital yang dapat diakses langsung oleh pemerintah kabupaten/kota, provinsi, hingga pusat. Evaluasi dapat melibatkan perguruan tinggi atau institusi tertentu yang ditunjuk secara independen. Indikator jangka pendek yang dapat digunakan antara lain kehadiran siswa, konsentrasi dan partisipasi di kelas, prestasi belajar, dan pemantauan status gizi berkala. Indikator jangka menengah dapat diketahui berdasarkan tren overweight/obesitas, status anemia dan efektivitas penggunaan anggaran. MBG adalah peluang emas membangun generasi sehat, namun jika desain menunya kurang tepat, maka dapat pula mempercepat meningkatnya tren penyakit degeneratif. Transformasi menuju paradigma nourishing harus ditetapkan dalam regulasi teknis yang jelas, sistem monitoring ketat, dan komitmen lintas sektor yang konsisten.

Post Comment

You May Have Missed