Makna Kisah Kebangkitan Lazarus dalam Kehidupan Sehari-Hari
Khotbah pastor minggu itu masih meninggalkan kesan mendalam bagi ku. Bacaan injil saat itu berbicara tentang kisah Yesus membangkitkan Lazarus yang telah meninggal selama 4 hari. Sebelum Yesus membangkitkan Lazarus, Marta, saudari Lazarus berkata kepada-Nya bahwa ia sudah berbau karena sudah empat hari ia mati. Ini yang menjadi poin menarik dalam khotbahnya. Pastor memberikan perumpamaan bahwa bau yang dikeluarkan dari Lazarus sama seperti bau yang kita keluarkan dari kematian kebaikan dalam diri kita. Kematian kebaikan itu berupa sifat negatif di dalam diri, misalnya kemalasan, rakus, sifat mudah marah, sibuk menyalahkan orang lain, dan lain sebagainya.
Sifat-sifat negatif ini mengeluarkan aroma busuk yang mengganggu orang lain. Aroma ini membuat orang lain semakin jengkel karena kelakuan kita. Saat itu saya jadi berpikir, tindakan apa yang kira-kira membuat orang lain tidak nyaman terhadap ku? Apakah aku mudah marah? Apakah segala sesuatu harus di gas pol? Apakah aku tidak ramah atau tidak mudah tersenyum? Apakah aku malas? Apakah aku suka gosip? Apakah aku overthinking? Apakah aku mudah iri dan curigaan? Apakah aku egois? Apakah aku suka menuntut orang lain mengikuti keinginan ku? Apakah aku mudah cemas? Apakah aku mudah takut? Apakah aku tidak percaya diri? Apakah aku rakus? Dan pertanyaan-pertanyaan lainnya. Khotbah ini menjadi titik balik refleksi diri, kesempatan untuk menilai diri. Sekarang aku sadar bahwa kebangkitan Lazarus bukan sekedar fakta bahwa Yesus hebat sehingga mampu membangkitkan orang mati, melainkan sebagai bukti bahwa Ia memiliki kasih yang besar untuk membangkitkan kita dari kematian atau sikap-sikap negatif yang kita miliki.
Refleksi diri membawa kita pada penyerahan total terhadap Allah. Ia sumber Kasih. Ia membantu kita menjadi pribadi yang lebih baik lagi, pribadi yang berpikir positif terhadap diri-sendiri. Suara-Nya mengarahkan kita untuk bertindak dalam kehidupan sehari-hari, membangun relasi dengan orang lain, dan bekerja sesuai kehendak-Nya hingga akhirnya kita tidak lagi mengeluarkan bau busuk, melainkan wewangian yang menyenangkan diri-sendiri, keluarga, sesama, dan Dia. Manusia jauh dari kata sempurna, yang penting tetap berusaha. Terima kasih atas khotbahnya, Pastor.
Minggu, 22 Maret 2026. Gereja Katolik St. Alfonsus de Liguori, Nandan, Kab. Sleman, Yogyakarta




Post Comment