Bertumbuh Karena Luka
Sebuah pesan yang selalu terngiang dalam pikiran saya ialah jadilah orang baik. Sejujurnya saya bingung bagaimana definisi baik itu. Definisi baik dalam pikiran saya ialah saling membantu, saling memahami, sabar, memaafkan, dan tidak marah-marah. Ada kalanya bahagia, tapi ada kalanya saya kurang bahagia menjalaninya. Setelah saya sadari, ternyata saya belum ikhlas sepenuhnya, hingga akhirnya saya merasa banyak hal yang terpendam dan tanpa saya sadari, saya menciptakan luka yang tak terlihat.
Kadang-kadang saya melihat sekeliling, “kok bisa ya mereka se-happy itu? Sesantai dan tetap menyenangkan walau sebenarnya banyak hal yang disimpan juga”. Saya jadi ingat, pesan teman ke saya pribadi “Jangan terlalu keras ke diri-sendiri”. Lagi-lagi, perkataan itu membuat saya harus belajar memahami bagaimana seharusnya menjalani hidup yang baik. Saya belajar lagi dan pelan-pelan saya mulai memahami bahwa kunci hidup yang utama adalah sukacita. Ibarat iklan, apapun makanannya, minumnya teh botol sosro, ini juga sama, apapun masalahnya, solusinya tetaplah sukacita. Menghidupi hidup dengan sukacita yang sungguh-sungguh. Sabar yang sungguh-sungguh, mengalah yang sungguh-sungguh, menyerahkan segala perkara ke Atas dengan sungguh-sungguh. Membangun relasi sungguh-sungguh. Sesekali humor. Tersenyum sungguh-sungguh, bukan sekedar cekungan bibir saja yang terbentuk di mulut. Ya, 100% sungguh-sungguh, bukan 75%, bukan 90%, bahkan 99%, tapi 100%.
Kenyataannya, saya belum sampai 100%. Saya mencoba baik setiap saat tanpa saya sadari kadang kala saya menjadi korban dari amarah orang lain yang seharusnya saya tidak terima. Saya memaafkan, tapi ternyata saya belum sungguh-sungguh memaafkan. Akhirnya, saya yang menanggung luka. Saya memang tidak seberani orang lain yang berani bertengkar hingga kehabisan kosakata. Ternyata saya tidak sekuat yang saya bayangkan. Ah, Sialnya… Luka yang saya pendam ternyata memiliki bom waktu yang membuat saya menjadi lelah. Lelah karena selalu mengalah dan lelah karena selalu disalahkan walaupun saya diam. Hingga ada satu momen yang membuat saya berdoa kepada Tuhan dan meminta saya tidak mau menjadi sasaran emosi orang lain. Jika saya salah, saya meminta maaf, namun jika orang lain salah, sering sekali tidak minta maaf. Saya memang tak punya kendali apapun atas orang lain. Saya menyadari, kalau saya seperti ini terus, maka saya yang tertinggal. Ini namanya menggali lubang kesialan lebih dalam lagi.
Saya mulai berkaca ke diri-sendiri, saya berusaha mengolah porak-poranda kondisi diluar kendali diri saya dan curhat keAtas. Kata Syahrini, hempaskan….. Kata Maudy, let them… dan kuncinya ialah sungguh-sungguh. Pelan-pelan, saya merasa tenang. Saya bertumbuh karena luka. Jatuh? Bangkit lagi, meskipun air mata, tiba-tiba menetes tidak kenal waktu.
Ya, beginilah, suasana hidup orang beda-beda. Syukuri dan jalani. Terima kasih untuk luka yang hadir, saya bisa belajar dan bertumbuh. Semoga saya selalu mampu memaafkan dengan tulus, sebagai bukti cinta saya pada diri-sendiri yang tidak membiarkan kekesalan menyelimuti hati dan juga kepada orang lain. Terima kasih.




Post Comment