Perpisahan yang Mengagumkan: Kisah Seorang Nutrisionis dan Pasien
Tulisan ini adalah tulisan lama yang ingin saya bagikan kembali..
Tidak ada acara khusus dengan masyarakat Desa Bokang Wolomatang. Cukup berpamitan dengan para kader, ibu bayi/balita, dan anak-anak. Setelah izin berpamitan dan kegiatan posyandu selesai, seorang ibu menghampiri saya. Tiba-tiba ia mengucapkan terimakasih kepada saya. Saya tanya, makasi kenapa? Dia bilang, “Dulu saya yang ibu konseling waktu saya punya penyakit TBC. Ibu suruh saya makan pisang, makan makanan lokal saja. Saya jadi semangat sembuh. Anak juga sehat ibu”
Saya coba mengingat lagi, memang saya pernah memberikan konseling gizi kepada salah satu ibu penderita TBC yang pada saat itu sedang memiliki bayi. Jarang berkontak dengan anak memang cukup menyedihkan. Saya lupa anjuran apa saja yang saya beri kepada beliau, namun yang sangat ingat adalah saya menyemangati beliau agar cepat sembuh dan punya banyak waktu berinteraksi dengan anak. Saya rasa sangat kasihan seorang ibu yang melahirkan, memiliki penyakit TBC, dan tidak bisa menyusui dan berinteraksi banyak dengan bayinya. Lama tak berinteraksi dan mungkin saya juga tidak terlalu kenal dengan anaknya yang sudah bertumbuh, dia bilang kalau anaknya sehat, tidak stunting dan tidak kecil juga. Meskipun kami tidak terlalu dekat dan mungkin beliau juga segan ngobrol dengan saya, tetapi dia bisa buktikan dengan sembuh dari TBC dan anaknya juga bisa tumbuh sehat.
Bagiku, ini adalah perpisahan yang mengagumkan. Saat satu orang mendengarkan dan mengikuti anjuran kita, dan bisa sembuh, rasanya sangat senang sekali. Terimakasih ibu. Cerita ini akan memotivasi saya agar tetap bermanfaat bagi orang yang membutuhkan dimanapun berada. Terimakasih…




Post Comment