Takjub Karena Kasih Allah
Judul kalimat diatas sedikitnya menggambarkan isi buku yang telah ku baca berjudul Kematian Yang Menakjubkankarya Bpk. Herman Yoseph Susmanto. Pada tanggal 21 April 2018, aku ikut bersama kedua orangtua ke tempat pelayanan Bimbingan Hidup Sehat (BHS). Aku tidak tahu kapan tepatnya beberapa anggota keluarga ku mengikuti anjuran racun tubuh dari Opa Anton (Seseorang yang telah diberi karunia di bidang kesehatan). Saat tiba di lokasi, aku melihat banyak sekali orang yang mengikuti pelayanan ini, boleh dikatakan lebih dari 100 orang. Orangtua ku mulai menyapa dan memberi salam beberapa orang yang hadir disitu. Setelah memberi salam, Bapak ku duduk dekat sebuah meja yang diatasnya terdapat berbagai macam produk dagangan. Aku melihat sebuah buku berjudul Kematian Yang Menakjubkan. Ketika aku membaca judul buku itu, terlintas dalam pikir ku, “Apa maksud judul ini? Apakah mungkin foto seorang ibu pada sampul buku ini sedang sakit, kemudian mendapat mukjizat kesembuhan sebagai bentuk Karya Nyata Allah?” Kematian Yang Menakjubkan dalam pikiran ku adalah mendapat mukjizat kesembuhan atau lenyapnya penyakit dari tubuh ibu yang gambarnya ada di sampul buku itu. Lalu Bapak menawarkan buku itu kepada ku. Aku katakan tidak karena sepertinya aku sudah tahu isi buku tersebut. Beberapa kali Bapak melihat buku yang masih tersampul plastik bening itu, membaca sinopsisnya lalu menawarkannya kembali kepada ku. Tetap saja jawabku “Tidak”. Beberapa teman bapak yang ada di sekitarnya mengatakan bahwa buku itu bagus. Singkat kata, Bapak tetap beli buku itu.
Awalnya memang aku katakan tidak pada buku ini, tetapi rasa-rasanya rasa penasaran ku pada buku -yang telah terletak rapi diatas meja ini- tidak bisa ku tolak. Aku pun membaca buku 411 halaman ini dalam 4 hari. Buku ini menceritakan pentingnya kita memahami perintah/suara Allah melalui suara hati kita. Allah ingin kita menyerahkan hidup sepenuhnya kepada-Nya. Bapak Susmanto, penulis buku ini ialah salah satu dari sekian orang yang memiliki sepak terjang nan bagus di Bank Indonesia belasan tahun lalu, diantaranya sebagai Direktur Peredaran Uang dan Kepala Perwakilan BI di Eropa. Alur cerita dalam buku ini mencoba menggambarkan sosok Bapak Susmanto yang intelek, rendah hati dan lebih sering berorientasi pada logika, sedangkan sosok Ibu Yustin ialah sosok istri yang tenang, berwibawa, dan pandai mendengar suara hatinya. Apakah memang benar istilah “perempuan lebih sering mengandalkan perasaan dan laki-laki lebih sering mengandalkan logika berpikir”?
Alur cerita Bab 2 mengulik bagaimana sepasang suami istri ini menghadapi sebuah masalah. Bapak Susmanto bercerita tentang kegelisahannya yang luar biasa bahkan beliau sendiri bingung bagaimana cara mengatasinya. Kegelisahan beliau terkait dengan pemberitaan media elektronik tentang pembelian uang kertas denominasi Rp 100.000,- bahan polymer dari Australia untuk kepentingan Pemerintah Indonesia dalam mengatasi krisis ekonomi tahun 1999 dimana pada tahun itu, Pak Susmanto menjabat sebagai Direktur Peredaran Uang. Berita ini menjadi headline dalam berbagai media elektronik dan semua pemberitaan seolah memojokkan beliau. Beliau dituntut harus memberikan klarifikasi sedangkan beliau tidak memegang sehelai pun berkas pengadaan uang polymer tersebut. Akibat pemberitaan tersebut, makan susah tidur pun susah. Beliau pasrah jika sewaktu-waktu polisi datang menjemputnya. Bu Yustin, seorang kepala sekolah SD Assisi Tebet yang pada saat itu sedang istirahat sekolah, pulang ke rumah untuk makan siang. Sebelum kembali ke sekolah, Ibu Yustin berpesan kepada suaminya agar berdoa tepat pukul tiga sore di meja yang sering Bu Yustin gunakan untuk berdoa. Doa itu adalah Doa Koronka. Bagi Umat Katolik, doa ini selalu dilakukan pada pukul tiga sore. Doa ini mirip Doa Rosario namun untaian kalimatnya berbeda. Pak Susmanto menurutinya dan pada pukul tiga, ia berdoa. Menghabiskan waktu 30 menit untuk berdoa, Pak Susmanto seperti mendengar bisikan yang menyuruh beliau untuk beristirahat sejenak. Ia beristirahat dan terbangun pukul 8 malam. Saat terbangun, ia merasa tidurnya sangat pulas dan pikirannya sedikit lebih tenang. Setelah itu Pak Susmanto membersihkan diri dan makan. Sesaat setelah makan, seseorang datang mengetuk pintu. Pak Susmanto pasrah jika yang datang adalah polisi. Sungguh buah dari doa, seseorang yang datang ternyata ialah rekan kerja beliau di BI dahulu dan membawa berkas fotocopy proses pengadaan uang polymer. Teman beliau turut merasa bahwa posisi Pak Susmanto sedang tidak aman. Singkatnya, konferensi klarifikasi pun berjalan dengan lancar. Bagi ku, peristiwa ini merupakan jawaban dari doa beliau yang tidak lepas dari bantuan sang istri yang menyuruhnya berdoa. Perintah setelah berdoa ialah agar beliau beristirahat sejenak. Ketenangan. Ketika kita tenang, segalanya akan lebih mudah dijalani. Teringat akan khotbah Pastor akan singkatan DOA, D (Dikuatkan), O (Oleh), A (Allah) – Dikuatkan Oleh Allah.
Beberapa cerita tentang kekuatan doa masih tertulis dalam buku ini. Pak Susmanto selalu mengatakan bahwa Bu Yustin memang pandai mendengar suara hati. Sosok Bu Yustin yang terlihat tenang dan murah hati ternyata harus mengalami penyakit kanker payudara. Ketika aku membaca Bab 3 bagian Ketika Kami Mengandalkan Diri Sendiri, penulis mulai menceritakan tentang penyakit kanker payudara yang dialami oleh Bu Yustin hingga peran bapak Susmanto dalam proses operasi. “Lebih cepat lebih baik”. Tanpa berpikir panjang dan tanpa persetujuan sang istri, penulis melakukan persetujuan dengan dokter untuk melalukan operasi. Hasil operasi yang dikatakan cukup membaik ternyata tidak berlangsung lama. Penyesalan muncul namun tak bisa berbuat apa-apa lagi. Setelah beberapa lama mengikuti terapi medis, pada akhir 2014 Bu Yustin memutuskan untuk menghentikan terapi medis dan pasrah pada kondisinya. Aku mengutip perkataan Bu Yustin dalam buku ini:
“Saya ingin sepenuhnya menyerahkan sakit ini kepada Allah; kalau Allah mengizinkan saya sembuh, pasti terjadi. Namun kalau Allah menghendaki lain, saya akan patuh kepada-Nya”
Bagi ku, penyataan diatas sungguh kata luar biasa, menyerahkan hidup seutuhnya kepada-Nya, menerima dengan lapang dada dan besar hati terhadap apapun yang akan terjadi kepadanya. Mengikuti suara hati yang mengalir seperti yang tertulis dalam buku, Pak Susmanto dan Bu Yustin dipertemukan dengan Opa Anton dalam pelayanan Bimbingan Hidup Sehat. Seperti yang telah saya tuliskan pada alinea I, Opa Anton diberi karunia menyembuhkan orang dengan cara memberi racun tubuh. Cukup salam beliau dan racun tubuh pun akan diberikan. Sudah banyak kesaksian kesembuhan ketika mengikuti anjuran tidak mengonsumsi racun tubuh ini. Setiap orang memiliki racun tubuh yang berbeda. Jika dikaitkan dengan ilmu pengetahuan, maka kata racun tubuh akan berkaitan dengan makna kata Nutrigenomik yang menjelaskan peranan zat gizi dalam makanan terhadap ekspresi gen dan dampaknya terhadap kesehatan tubuh manusia. Setiap orang memiliki respon yang berbeda terhadap makanan yang dikonsumsi. Singkatnya, Opa Anton memberikan racun tubuh kepada Bu Yustin dan juga Pak Susmanto. Ada beberapa makanan yang tidak boleh dikonsumsi oleh beliau. Selama mengikuti arahan Opa Anton, Ibu Yustin juga diajak ke Kupang (pusat pelayanan BHS ini). Pak Susmanto dalam bukunya menceritakan tentang kondisi lokasi tersebut yang unik dan luar biasa, terdapat berbagai jenis tanaman, air yang terus mengalir di daerah kering, penetapan sistem zero waste. Bersatu dengan Alam. Tempat pelayanan ini ibarat sebuah rumah sakit bagi pasien-pasien Opa, bukan diobati dengan obat, melainkan perawatan batin dan jiwa, memaknai lebih dalam kasih Allah.
Tinggal di lokasi ini tampaknya membuat wajah Ibu Yustin selalu tersenyum –tampak dari cerita dan gambar yang dilampirkan pada buku. Sesekali Ibu Yustin kembali ke rumah dan kampung halamannya, dan kemudian kembali lagi ke Kupang. Ibu Yustin memang selalu berjuang untuk sembuh. Suatu hari ketika akan pulang dari Kupang, Bu Yustin berkata bahwa ia akan pulang bersama Opa Anton yang sekalian akan transit di kota Bu Yustin tinggal. Saat perjalanan di dalam pesawat, Opa Anton bercerita tentang penyakit Bu Yustin yang sebenarnya sudah ada sejak usia 32 tahun namun karena kemuliaan hati Bu Yustin, penyakit itu baru muncul ketika anak-anaknya sudah dewasa. Singkatnya, Bu Yustin kembali dirawat di rumah sakit. Tampaknya ibu Yustin sudah tahu bahwa ia akan pergi selama-lamanya. Ia tampak lebih tenang. Ibu Yustin meminta suaminya untuk membuatkan teh. Setelah minum teh, beliau berkata kepada suaminya bahwa sudah tiba saatnya berangkat, Pak Susmanto pegang tangan Bu Yustin dan sesaat kemudian Bu Yustin kembali ke pangkuan Allah. Kepergian Bu Yustin tidak meninggalkan tangisan yang amat mendalam bagi Pak Susmanto, melainkan takjub karena istrinya pergi dalam keadaan yang tenang dan tidak mengeluh. Beliau meyakini bahwa hidup sepenuhnya adalah milik Allah karna kematian juga bagian dari kebahagiaan dimana manusia bisa bertemu dengan Allah. Perjuangan untuk sembuh turut menjadi bukti kasih Allah sungguh mengalir dalam diri Ibu Yustin.
Makna “Kematian yang Menakjubkan” yang awalnya kukira adalah mukjizat kesembuhan atau hilangnya penyakit ketika beliau masih hidup, ternyata memang mukjizat kesembuhan yang menghantar beliau ke pangkuan Allah dalam kondisi yang siap dan tenang.
Akhir dari tulisan ini, saya ingin mengutip beberapa kalimat menarik dalam buku ini:
“Jangan biarkan hidupmu menjadi sia-sia. Jadilah manusia yang berguna. Tinggalkan jejak…. lenyapkanlah bekas-bekas yang buruk dan kotor yang ditaburkan oleh penyebar kebencian. Terangilah jalan-jalan di dunia ini dengan terang Kristus yang kau bawa dalam hati mu. “
Ada pula kata-kata yang dikutip oleh Bapak Herman dari buku Terjemahan “Bebaskan Kami dari Sini” dan didalamnya terdapat kata-kata Maria Simma:
“Jiwa-jiwa terkasihlah yang melakukannya, mereka tidak banyak menarik perhatian, namun memberi lebih banyak kasih dan pertolongan melalui doa-doa mereka. Mereka yang dengan sabar dan kasih kepada Allah, menderita secara tersembunyi, menyelesaikan lebih banyak persoalan.”
Tidak hanya badan yang perlu sehat, tetapi juga jiwa manusia.
“Corpus Sanum in Mentem Sanam – Tubuh yang sehat terdapat dalam jiwa yang sehat”.
Buku ini sangat inspiratif.




1 comment